Trump Tawarkan Konsesi pada Putin Jelang Pembicaraan Perdamaian Ukraina di Arab Saudi
FLORIDA, investortrust.id – Presiden Rusia Vladimir Putin berada di posisi yang kuat menjelang pembicaraan penting AS-Rusia pada Selasa di Arab Saudi. Pembicaraan itu bertujuan untuk mengakhiri perang Ukraina.
Pemerintahan Donald Trump telah mengakhiri isolasi internasional presiden Rusia. Hal ini merusak kesatuan Barat, dan menimbulkan keraguan tentang sejauh mana AS akan membela Eropa. Menandai pergeseran dramatis menuju Putin dan menjauhi sekutu tradisional Amerika.
Baca Juga
Bahas Ukraina dan Pertahanan Kawasan, Eropa Gelar KTT Darurat di Prancis
Dengan serangkaian pernyataan yang saling bertentangan dalam kunjungan awal mereka ke Eropa, para pembantu Trump juga memicu kekhawatiran bahwa presiden AS akan menerima kesepakatan apa pun dengan Putin, bahkan jika itu merugikan Ukraina dan benua yang kembali terancam oleh ekspansionisme Rusia.
Saran bahwa AS akan mengecualikan sekutu Eropanya dari pembicaraan perdamaian tentang Ukraina, meskipun menuntut mereka memberikan jaminan keamanan dan pasukan sebagai bagian dari kesepakatan untuk mengakhiri perang, juga menimbulkan alarm di ibu kota-ibu kota Eropa. Kekhawatiran negara-negara memicu mereka mengadakan pertemuan darurat di Prancis.
Trump juga memicu kekhawatiran bahwa Ukraina sendiri tidak akan menjadi bagian dari pembicaraan yang sangat penting bagi kelangsungan hidupnya sebagai sebuah negara setelah wilayah kedaulatannya diinvasi oleh negara tetangga yang totaliter, membawa kejahatan perang, kehancuran, dan korban sipil.
Pada Minggu (16/02/2025), Trump menyatakan kemungkinan bertemu dengan Putin dalam waktu dekat. "Kami terus berusaha. Kami berusaha mencapai perdamaian dengan Rusia, Ukraina, dan kami bekerja sangat keras untuk itu, " kata Trump kepada wartawan di Florida, seperti dikutip CNN.
Setelah Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky memperingatkan dalam program "Meet the Press" NBC bahwa ia "tidak akan pernah menerima keputusan apa pun antara AS dan Rusia tentang Ukraina," Trump memberikan jaminan samar bahwa ia akan "terlibat."
Langkah Awal
Menteri Luar Negeri Marco Rubio, penasihat keamanan nasional Mike Waltz, dan utusan Timur Tengah Steve Witkoff akan memimpin delegasi AS dalam pembicaraan yang diselenggarakan oleh Arab Saudi, yang memiliki hubungan baik dengan Moskow dan tim Trump.
Rubio menggambarkan pertemuan tersebut sebagai tindak lanjut dari panggilan telepon Trump dengan Putin minggu lalu. "Beberapa minggu dan hari ke depan akan menentukan apakah ini serius atau tidak," katanya dalam acara "Face the Nation" CBS pada Minggu.
Baca Juga
Upaya Akhiri Perang di Ukraina, Trump Akui Sudah Berbicara dengan Putin
Rubio juga membantah pernyataan utusan Trump untuk Ukraina, Keith Kellogg, yang pada Sabtu mengatakan bahwa meskipun Kyiv akan terlibat dalam pembicaraan perdamaian, negara-negara Eropa tidak. "Jika ini adalah negosiasi nyata, dan kita belum sampai di sana. Jika itu terjadi, Ukraina harus terlibat karena merekalah yang diinvasi, dan Eropa juga harus terlibat karena mereka memiliki sanksi terhadap Putin dan Rusia serta telah berkontribusi dalam upaya ini," beber Rubio.
Sikap AS yang terus berkembang terhadap usulan perjanjian damai ini menunjukkan bahwa sering kali tidak bijak bereaksi berlebihan terhadap retorika awal Trump dan para pembantunya sebelum kebijakan mereka benar-benar ditetapkan. Tanpa tekad presiden AS yang baru untuk menjalin hubungan dengan Putin, hampir tidak ada harapan untuk mengakhiri perang brutal ini dalam beberapa bulan mendatang. Tampaknya, masih ada ruang yang cukup besar bagi Ukraina dan negara-negara Eropa untuk membentuk negosiasi yang hanya bisa berhasil sepenuhnya dengan keterlibatan mereka.

