Serangan Drone Ukraina Hantam Ekspor Rusia, Harga Minyak Dunia Terkerek
Poin Penting
- Brent ditutup naik 0,93% ke US$66,99/barel, WTI naik 0,51% ke US$62,69/barel.
- Serangan drone Ukraina hentikan sementara ekspor minyak Rusia dari pelabuhan Primorsk.
- Data tenaga kerja AS yang lemah dan inflasi tinggi menekan prospek permintaan minyak.
- IEA prediksi pasokan global naik lebih cepat, OPEC pertahankan proyeksi permintaan tinggi.
NEW YORK, investortrust.id – Harga minyak dunia ditutup menguat pada perdagangan Jumat (12/9/2025), setelah serangan drone Ukraina menghentikan aktivitas bongkar muat di pelabuhan Primorsk, salah satu hub ekspor terbesar Rusia. Namun, potensi reli tertahan karena kekhawatiran melemahnya permintaan dari Amerika Serikat.
Baca Juga
Harga Minyak Melonjak karena Kenaikan Produksi OPEC+ Lebih Kecil dari Perkiraan
Kontrak berjangka Brent naik 0,93% ke US$66,99 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 0,51% ke US$62,69 per barel. Pada awal sesi, pasar merespons cepat kabar terhentinya ekspor minyak Rusia akibat serangan tersebut, namun sentimen segera bergeser setelah data tenaga kerja dan inflasi AS menekan prospek permintaan energi.
John Kilduff, mitra di Again Capital, seperti dikutip Reuters, menyebut data ekonomi terbaru justru memberi tekanan bearish pada harga. “Data ekonomi tidak mendukung reli. Tekanan keseluruhan masih turun dan tren tetap negatif,” katanya.
Selain itu, pasar mencermati rencana sanksi dan tarif baru dari pemerintahan Trump untuk menekan pembelian minyak Rusia oleh India dan Tiongkok. Sementara itu, laporan Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan pasokan minyak global meningkat lebih cepat dari perkiraan, didorong oleh tambahan produksi dari OPEC+.
Baca Juga
OPEC+ Sepakat Tambah Produksi 137.000 bph Oktober, Harga Minyak Berpotensi Melemah
Meski begitu, OPEC sendiri tetap mempertahankan proyeksi permintaan minyak global yang relatif tinggi untuk tahun ini dan tahun depan.

