Harga Minyak Tertekan Ancaman Meluasnya Perang Tarif Trump
JAKARTA, investortrust.id - Mengawali pembukaan pekan pagi ini, Senin (17/2/2025) harga minyak terpantau bergerak bearish dibebani oleh potensi meluasnya perang dagang secara global.
Meski demikian, meredupnya harapan kesepakatan damai Ukraina, serta sinyal eskalasi tensi antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel berpotensi mendorong harga kembali bullish.
Riset Indonesia Commodity and Derivative Exchange (ICDX), memaparkan Presiden AS Donald Trump berencana melihat lebih jauh dari sekadar tarif dan hambatan non-tarif dengan mengarahkan tim ekonominya untuk mengkaji manipulasi mata uang saat mempelajari masalah tersebut menjelang batas waktu paling lambat tanggal 1 April.
“Rencana kebijakan tarif timbal balik pada setiap negara yang mengenakan pajak atas impor AS, memicu kekhawatiran akan meningkatkan risiko perang dagang global,” tulis riset ICDX, Senin (17/2/2025).
Baca Juga
ICP Januari 2025 US$ 76,81 Per Barel Imbas Kenaikan Harga Minyak Dunia
Turut membebani pergerakan harga, Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, pada hari Jumat menegaskan bahwa China akan menanggapi dengan tegas praktik intimidasi sepihak yang dilakukan oleh AS sampai akhir, meskipun China tidak ingin berkonflik dengan AS dan berharap AS dapat bekerja sama dengan China dalam arah yang sama.
Sementara itu, serangan terbaru drone Ukraina yang dilancarkan di wilayah Krasnodar Rusia telah melukai satu orang dan merusak sedikitnya 12 rumah. Sebelumnya, Ukraina mengatakan berencana menargetkan infrastruktur energi Rusia di wilayah Krasnodar, yaitu kilang minyak Ilsky, salah satu kilang terbesar milik Rusia yang memiliki kapasitas sekitar 138.000 bph.
“Berita tersebut meredupkan ekspektasi akan segera tercapainya kesepakatan damai untuk mengakhiri konflik Rusia-Ukraina,” ulas riset tersebut.
Baca Juga
Pasar Cermati Prospek Kesepakatan Damai Ukraina, Harga Minyak Turun
Dukungan lainnya datang dari pernyataan dukungan Israel terhadap AS dalam upaya meredam ancaman Iran, pasca pertemuan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dengan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pada hari Minggu.
“Dalam pertemuan itu, Israel dan AS menyepakati akan memastikan Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir dan juga sepakat bahwa agresi Iran di kawasan itu harus diredam,” paparnya.
Melihat dari sudut pandang teknis, ICDX memproyeksikan harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$ 73 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$ 68 per barel.

