Wall Street Terguncang Setelah Rilis Data CPI, Dow Anjlok Lebih dari 200 Poin
NEW YORK, investortrust.id - Pasar saham AS bergolak pada Rabu waktu AS atau Kamis (13/02/2025) WIB. Indeks S&P 500 merosot dan Dow Jones anjlok lebih dari 200 poin.
Baca Juga
Wall Street 'Wait and See' Sikapi Pernyataan Powell, S&P 500 & Dow Menguat
Suku bunga melonjak setelah harga konsumen naik lebih dari perkiraan, sehingga meningkatkan kekhawatiran bahwa inflasi dapat kembali meningkat.
Indeks S&P 500 turun 0,27% menjadi 6.051,97, sementara Dow Jones Industrial Average anjlok 225,09 poin atau 0,5% menjadi 44.368,56. Nasdaq Composite berhasil mencatat kenaikan tipis 0,03% dan ditutup pada 19.649,95.
“CPI yang lebih panas dari perkiraan mengonfirmasi kecemasan investor terhadap inflasi yang terlalu tinggi, yang akan membuat The Fed tetap menahan diri,” beber Sameer Samana, kepala ekuitas global dan aset riil di Wells Fargo Investment Institute, seperti dikutip CNBC. Meskipun pasar berisiko masih bisa naik, trajektorinya akan lebih bergejolak dibandingkan dua tahun terakhir.
Baca Juga
Aksi jual terjadi selama sesi perdagangan setelah indeks harga konsumen (CPI) Januari melonjak 0,5% dalam sebulan, sehingga tingkat inflasi tahunan mencapai 3%. Kedua angka tersebut lebih tinggi dari perkiraan ekonom dalam survei Dow Jones, yaitu masing-masing 0,3% dan 2,9%. CPI inti, yang tidak mencakup harga makanan dan energi yang volatil, naik 0,4% dalam sebulan dan 3,3% dalam 12 bulan terakhir, juga lebih tinggi dari ekspektasi.
Imbal hasil Treasury 10 tahun, yang menjadi acuan untuk hipotek, pinjaman mobil, dan kartu kredit, melonjak ke level tertinggi sesi di 4,66%.
Baca Juga
Inflasi AS Memanas, Yield USTreasury 10-Tahun Melonjak di Atas 4,6%
Saham beberapa raksasa teknologi, termasuk Amazon dan Alphabet, mengalami penurunan. Saham sektor konsumsi dan perbankan, yang berisiko terkena dampak perlambatan belanja dan pelemahan ekonomi, juga melemah.
Sentimen pasar sedikit terbantu oleh komentar Ketua DPR AS Mike Johnson, yang menurut Reuters mengatakan bahwa Gedung Putih sedang mempertimbangkan pengecualian tarif timbal balik pada produk seperti farmasi dan otomotif. Saham GM dan Ford berakhir di zona hijau, bersama dengan Eli Lilly.
Keuntungan dari Tesla, Apple, dan Palantir membantu menahan kerugian. Saham CVS Health melonjak hampir 15% setelah mencatat laba kuartal keempat yang melampaui ekspektasi.
Data inflasi terbaru ini semakin mengurangi kemungkinan The Fed akan segera melanjutkan pemotongan suku bunga, bahkan meningkatkan kekhawatiran bahwa langkah berikutnya bisa berupa kenaikan suku bunga.
Ketua Federal Reserve Jerome Powell memberikan kesaksian di hadapan Komite Jasa Keuangan DPR pada Rabu dan mengatakan bahwa data CPI terbaru mengingatkan bahwa The Fed telah membuat “kemajuan besar” dalam membawa inflasi mendekati target 2%, tetapi “belum sepenuhnya tercapa[.”
“Kami ingin mempertahankan kebijakan tetap ketat untuk saat ini,” katanya kepada anggota parlemen dalam penampilan keduanya di Capitol Hill minggu ini. Komentar Powell mengikuti kesaksiannya di hadapan Komite Perbankan Senat pada Selasa, di mana ia mengatakan bahwa The Fed tidak terburu-buru untuk memangkas suku bunga lebih lanjut.
Baca Juga
Ekonomi AS Kuat, Powell Isyaratkan The Fed Tak Akan ‘Terburu-buru’ Turunkan Suku Bunga
Presiden Donald Trump mengatakan pada Rabu pagi, sebelum data CPI dirilis, bahwa suku bunga seharusnya diturunkan.

