Ekonomi AS Kuat, Powell Isyaratkan The Fed Tak Akan ‘Terburu-buru’ Turunkan Suku Bunga
WASHINGTON, investortrust.id - Ketua Dewan Gubernur Federal Reserve Jerome Powell menegaskan kembali komitmen bank sentral untuk menurunkan inflasi dan mengindikasikan bahwa para pembuat kebijakan tidak terburu-buru untuk menurunkan suku bunga.
Dalam pernyataannya di hadapan Komite Perbankan Senat, Selasa (11/02/2025), Powell menyebut ekonomi AS “secara keseluruhan kuat” dengan pasar tenaga kerja yang “solid” serta inflasi yang mulai mereda, walaupun masih di atas target 2% The Fed.
Baca Juga
Powell Sebut Bank Sentral Tak Terburu-buru Pangkas Suku Bunga Lagi
Dengan kondisi tersebut, ia menyatakan bahwa The Fed tidak perlu bergerak cepat dalam melonggarkan kebijakan moneter.
“Dengan sikap kebijakan kami yang kini secara signifikan kurang ketat dibanding sebelumnya dan ekonomi yang tetap kuat, kami tidak perlu terburu-buru untuk menyesuaikan kebijakan kami,” kata Powell, seperti dikutip CNBC.
“Kami tahu bahwa mengurangi pembatasan kebijakan terlalu cepat atau terlalu banyak dapat menghambat kemajuan dalam menekan inflasi. Di sisi lain, menguranginya terlalu lambat atau terlalu sedikit bisa melemahkan aktivitas ekonomi dan lapangan kerja secara tidak semestinya,” urainya.
Komentar Powell disampaikan dalam penampilan pertamanya dari dua agenda pekan ini di Capitol Hill. Ia berbicara di hadapan Komite Perbankan Senat pada hari Selasa dan akan menghadiri pertemuan dengan Komite Jasa Keuangan DPR pada hari Rabu.
Pasar saham sempat turun sesaat setelah pernyataan pembukaannya, tetapi relatif stabil setelah dua jam perdagangan.
Sebagian besar sesi sidang lebih banyak membahas pengawasan perbankan dibanding kebijakan moneter.
Senator Demokrat Elizabeth Warren dari Massachusetts menuding bahwa keputusan Presiden Donald Trump untuk menghentikan pekerjaan Biro Perlindungan Keuangan Konsumen (CFPB) telah membuat konsumen kehilangan pengawas terhadap bank-bank terbesar di negara itu.
Warren bertanya kepada Powell siapa yang mengawasi kepatuhan konsumen di luar CFPB, dan Powell menjawab, “Saya bisa mengatakan bahwa tidak ada regulator federal lainnya.” Namun, ia tetap menegaskan bahwa sistem perbankan secara keseluruhan aman. Powell juga mencatat bahwa The Fed “bertekad untuk meninjau kembali” isu-isu yang dikemukakan Trump terkait kebijakan de-banking.
Sidang tersebut juga berisi perdebatan politik, dengan para anggota parlemen terlibat dalam berbagai isu.
Terkait kebijakan moneter, pernyataan Powell sebagian besar sejalan dengan komentarnya sebelumnya serta pernyataan para koleganya yang tengah menganalisis berbagai dinamika fiskal dan moneter di tengah ketidakpastian ekonomi.
Yang paling menonjol, Trump telah meluncurkan kampanye agresif untuk menerapkan tarif terhadap mitra dagang utama AS. Langkah ini bertujuan untuk menciptakan keseimbangan ekonomi serta menegakkan kebijakan luar negeri dalam menangani imigrasi ilegal dan penyelundupan narkotika, khususnya fentanyl.
Baca Juga
Kebijakan Tarif Trump pada Tiga Negara, Awal ‘Perang Dagang Global’
Powell tidak menyebutkan kebijakan tersebut dalam pernyataan tertulisnya, tetapi ia diperkirakan akan menghadapi pertanyaan dari anggota komite mengenai tarif dan isu lainnya.
Dalam satu pertukaran pendapat, ia kembali menegaskan bahwa kebijakan perdagangan bukan merupakan ranah The Fed.
Menurut Powell, argumen standar untuk perdagangan bebas secara logis masih masuk akal. Namun, hal itu tidak berjalan dengan baik ketika ada satu negara besar yang tidak benar-benar bermain sesuai aturan. “Bagaimanapun, bukan tugas The Fed untuk membuat atau mengomentari kebijakan tarif. Itu adalah kewenangan para pejabat terpilih, bukan kami. Tugas kami adalah merespons kebijakan tersebut dengan cara yang bijak dan masuk akal serta menyusun kebijakan moneter agar kami dapat mencapai mandat kam,” elaknya.
Pasar menafsirkan pernyataan terbaru ini sebagai indikasi bahwa The Fed kemungkinan akan mempertahankan suku bunga, setidaknya hingga musim panas, setelah memangkas tingkat suku bunga acuannya sebesar satu poin persentase penuh pada akhir 2024.
Powell mengatakan bahwa kebijakan saat ini, dengan tingkat suku bunga dana The Fed berada dalam kisaran 4,25%-4,5%, memberikan fleksibilitas. Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) mempertahankan suku bunga tersebut pada pertemuan akhir Januari.
“Kami memperhatikan risiko di kedua sisi mandat ganda kami, dan kebijakan saat ini berada dalam posisi yang baik untuk menghadapi risiko serta ketidakpastian yang ada,” katanya.
Tak lama setelah menjabat, Trump mengatakan bahwa ia akan “menuntut” penurunan suku bunga “segera.” Namun, dalam pernyataan berikutnya, ia menyatakan setuju dengan keputusan The Fed pada Januari untuk mempertahankan suku bunga, sementara Menteri Keuangan Scott Bessent menyebut bahwa pemerintahan lebih fokus pada penurunan imbal hasil obligasi Treasury 10 tahun daripada tindakan The Fed yang lebih berpengaruh pada suku bunga jangka pendek.
Baca Juga
Menkeu AS Sebut Trump Tak akan Menekan The Fed Pangkas Suku Bunga
Suku bunga hipotek tetap tinggi meskipun The Fed telah memangkas suku bunga, dan Powell mengatakan bahwa hal itu dapat berubah di masa mendatang.
“Memang benar bahwa suku bunga hipotek tetap tinggi, tetapi hal itu tidak secara langsung terkait dengan suku bunga The Fed. Lebih berkaitan dengan suku bunga obligasi jangka panjang, terutama Treasury 10 tahun dan 30 tahun, misalnya. Dan suku bunga tersebut tinggi karena alasan yang tidak terlalu berkaitan dengan kebijakan The Fed,” urai Powell.
Powell mengatakan bahwa suku bunga hipotek bisa turun seiring dengan kebijakan The Fed yang tetap longgar, meskipun ia tidak yakin kapan hal itu akan terjadi.

