Inflasi AS Memanas, Yield USTreasury 10-Tahun Melonjak di Atas 4,6%
NEW YORK, investortrust.id - Imbal hasil Treasury AS naik tajam pada Rabu (12/02/2025) setelah investor bereaksi terhadap laporan inflasi konsumen Januari yang lebih tinggi dari perkiraan.
Imbal hasil Treasury 10-tahun melonjak lebih dari 9 basis poin menjadi 4,633%, sementara imbal hasil Treasury 2-tahun naik 8 basis poin menjadi 4,37%.
Indeks harga konsumen (CPI) naik 0,5% pada Januari dan meningkat 3,0% dalam 12 bulan terakhir, menurut Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS). Ekonom yang disurvei oleh Dow Jones memperkirakan kenaikan bulanan sebesar 0,3% dan kenaikan tahunan sebesar 2,9%.
Baca Juga
CPI inti, yang tidak memasukkan harga makanan dan energi yang volatil, naik 0,4% dalam sebulan dan 3,3% dalam 12 bulan. Ekonom sebelumnya memperkirakan kenaikan harga inti sebesar 0,3% pada Januari dan 3,1% secara tahunan, menurut Dow Jones.
Laporan inflasi yang lebih panas dari perkiraan ini dapat mendorong ekspektasi pemotongan suku bunga berikutnya oleh Federal Reserve lebih jauh ke masa depan. Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) memilih untuk mempertahankan suku bunga tidak berubah bulan lalu setelah melakukan pemotongan dalam tiga pertemuan sebelumnya.
"Rilis CPI yang lebih kuat dari perkiraan hari ini kemungkinan akan semakin memperkuat pendekatan hati-hati FOMC terhadap pelonggaran kebijakan," tulis Whitney Watson, global co-head and co-chief investment officer of fixed income di Goldman Sachs Asset Management, dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip CNBC.
Pada Rabu, Ketua Federal Reserve Jerome Powell tampil di hadapan Komite Jasa Keuangan DPR dan mengatakan bahwa data CPI Januari yang lebih panas dari perkiraan merupakan pengingat bahwa The Fed telah membuat "kemajuan besar" dalam membawa inflasi mendekati target 2%, tetapi "belum sepenuhnya tercapai."
Sebelumnya, di hadapan Komite Perbankan Senat pada Selasa, Powell mengatakan bahwa para pembuat kebijakan bank sentral "tidak perlu terburu-buru" untuk memangkas suku bunga lebih lanjut. "Kami tahu bahwa mengurangi pengetatan kebijakan terlalu cepat atau terlalu banyak dapat menghambat kemajuan inflasi. Pada saat yang sama, mengurangi pengetatan kebijakan terlalu lambat atau terlalu sedikit dapat melemahkan aktivitas ekonomi dan lapangan kerja secara tidak perlu," katanya.
Baca Juga
Ekonomi AS Kuat, Powell Isyaratkan The Fed Tak Akan ‘Terburu-buru’ Turunkan Suku Bunga
Indeks harga produsen akan dipublikasikan pada Kamis. Investor juga menghadapi dampak potensial dari tarif, karena Presiden AS Donald Trump menandatangani perintah pada Senin untuk menambahkan bea masuk 25% pada impor baja dan aluminium.

