TikTok Siap-siap Angkat Kaki dari AS, Ini Harapan Terakhir ByteDance
Dilansir dari Reuters, Kamis (16/1/2025), larangan ini merupakan bagian dari undang-undang yang ditandatangani Presiden Joe Biden pada April lalu. Aturan tersebut mengharuskan ByteDance untuk menjual asetnya di AS sebelum tenggat waktu 19 Januari. Jika tidak, aplikasi ini akan dilarang di Negeri Paman Sam, termasuk distribusinya melalui Apple dan Google Play Store.
Pengguna TikTok yang sudah mengunduh aplikasi masih dapat mengaksesnya. Namun, perusahaan teknologi AS dilarang memberikan layanan seperti pembaruan aplikasi atau pemeliharaan sistem, yang pada akhirnya membuat TikTok tidak bisa berfungsi dengan baik.
Sementara itu Presiden AS terpilih Donald Trump sedang mempertimbangkan untuk mengeluarkan perintah eksekutif guna menunda larangan selama 60 hingga 90 hari. “TikTok adalah platform yang fantastis. Kami akan mencari cara untuk melindunginya sambil tetap menjaga keamanan data pengguna,” ujar penasihat keamanan nasional Mike Waltz.
Baca Juga
TikTok Akan Diblokir, Warga Amerika Ramai-Ramai Beralih ke RedNote
Tapi, langkah hukum tetap menjadi kendala utama. Mahkamah Agung AS masih mempertimbangkan untuk mendukung, menangguhkan, atau membatalkan undang-undang tersebut. Dalam pengajuan di pengadilan, TikTok menyebut bahwa larangan ini melanggar perlindungan kebebasan berbicara di bawah Amandemen Pertama Konstitusi AS.
Jika larangan diberlakukan, TikTok berencana memunculkan pesan pop-up di aplikasi, memberikan informasi tentang penutupan tersebut. Pengguna juga akan diberi opsi untuk mengunduh data pribadi mereka sebelum akses ke platform dihentikan.
“Kami akan menghentikan layanan sepenuhnya. Ini langkah untuk melindungi mitra layanan kami di AS dari tanggung jawab hukum dan mempermudah pemulihan jika larangan dicabut,” ujar pengacara TikTok Noel Francisco pada sidang pekan lalu.
Baca Juga
TikTok menegaskan bahwa penutupan ini tidak hanya akan berdampak pada pengguna di AS, tetapi juga di negara lain. Pasalnya, banyak penyedia layanan di AS yang mendukung operasi TikTok secara global.
TikTok dan ByteDance tetap berharap ada kelonggaran dari pemerintah AS untuk memperpanjang tenggat waktu divestasi atau membatalkan larangan. Namun, jika tidak ada keputusan berbeda, hari Minggu nanti bisa menjadi hari terakhir TikTok beroperasi di AS.
Sekadar informasi, TikTok saat ini dimiliki sekitar 60% oleh investor institusi, termasuk BlackRock dan General Atlantic, dengan lebih dari 7.000 karyawan di AS. Keputusan ini dilaporkan akan mempengaruhi 170 juta pengguna aktif TikTok di AS. (C-13)

