Assad Jatuh, Rusia Berkeras Tetap ‘Ngendon’ di Dua Pangkalan Militer Suriah
JAKARTA, Investortrust.id - Rusia menarik kembali pasukan militernya dari garis depan di Suriah utara dan dari pos-pos di Pegunungan Alawiah. Namun Rusia disebut-sebut tidak akan meninggalkan dua pangkalan utamanya di Suriah kendati penguasa dukungannya Presiden Bashar al-Assad telah jatuh, demikian empat pejabat Suriah kepada Reuters.
Assad yang terguling, bersama mendiang ayahnya, mantan Presiden Hafez al-Assad, telah menjalin aliansi erat dengan Moskow. Dan kini pasca jatuhnya Assad telah menimbulkan pertanyaan tentang nasib pangkalan militer Rusia, yakni pangkalan udara Hmeimim di Latakia, dan fasilitas angkatan laut Tartous.
Rekaman satelit pada hari Jumat menunjukkan setidaknya ada dua Antonov AN-124, salah satu pesawat kargo terbesar di dunia, tengah mangkal di Hmeimim dengan hidung terbuka. Gambar itu menandakan Antonov tengah bersiap untuk memuat barang.
Setidaknya satu pesawat kargo terbang pada hari Sabtu menuju Libya, kata seorang pejabat keamanan Suriah yang ditempatkan di luar fasilitas tersebut.
Sumber-sumber militer dan keamanan Suriah yang berhubungan dengan Rusia mengatakan kepada Reuters bahwa Moskow menarik kembali pasukan dan alat-alat beratnya dari garis depan. Termasuk pula sejumlah perwira militer senior Suriah.
Baca Juga
Namun sumber yang tidak mau disebutkan namanya karena sensitifnya situasi, mengatakan Rusia tidak akan menarik diri dari dua pangkalan utamanya dan saat ini tidak berniat melakukan hal tersebut, demikian dikutip BBC, Minggu (15/12/12024).
Sementara itu seorang perwira senior yang dikutip Reuters mengatakan, sejumlah peralatan dikirim kembali ke Moskow, begitu pula para perwira senior militer Assad, namun tujuannya disebutkan untuk regroup dan redeploy sesuai dengan perkembangan yang terjadi di lapangan.
Sementara itu seorang pejabat senior kelompok pemberontak yang dekat dengan pemerintahan interim mengatakan, persoalan kehadiran militer Rusia di Suriah dan perjanjian masa lalu antara pemerintah Assad dan Moskow memang belum menjadi hal-hal yang dibahas pemerintahan baru.
“Ini adalah masalah perundingan di masa depan, dan rakyat Suriahlah yang akan mengambil keputusan akhir,” kata pejabat itu dikutip Reuters. Ia juga menyebutkan Moskow telah menyiapkan saluran komunikasi dengan rezim baru.
“Pasukan kami sekarang juga berada di sekitar pangkalan Rusia di Latakia,” tambahnya tanpa menjelaskan lebih lanjut.
Baca Juga
Didukung Pemberontak, Mohammed Al-Bashir Didapuk Jadi PM Sementara Suriah
Soal kondisi Suriah, Kremlin mengatakan Rusia sedang berdiskusi dengan penguasa baru Suriah mengenai pangkalan tersebut. Sayangnya Kementerian Pertahanan Rusia tidak menanggapi permintaan komentar atas laporan Reuters.
Sumber Rusia yang enggan disebutkan namanya mengatakan diskusi dengan penguasa baru Suriah sedang berlangsung dan Rusia tidak menarik diri dari pangkalannya.
Reuters tidak dapat segera memastikan bagaimana pemimpin pemberontak Suriah, Ahmad al-Sharaa yang lebih dikenal sebagai Abu Mohammed al-Jolani melihat masa depan jangka panjang dari pangkalan-pangkalan Rusia tersebut.
Presiden Rusia Vladimir Putin, telah memberikan suaka kepada Assad di Rusia setelah Moskow membantunya melarikan diri pada hari Minggu.
Pangkalan Militer
Sedikit cerita, Moskow telah mendukung Suriah sejak awal Perang Dingin, dan telah mengakui kemerdekaannya pada tahun 1944 ketika Damaskus berupaya untuk melepaskan diri dari pemerintahan kolonial Prancis. Sedangkan negara-negara Barat sudah lama menganggap Suriah sebagai satelit Soviet.
Pangkalan-pangkalan di Suriah merupakan bagian integral dari kehadiran militer global Rusia, dengan pangkalan angkatan laut Tartous sebagai satu-satunya pusat perbaikan dan pasokan Rusia di Mediterania, dengan Hmeimim sebagai pos utama untuk aktivitas militer dan tentara bayaran di Afrika.
Baca Juga
Setelah Dinasti Assad Jatuh, Biden Sebut Akan Dukung Suriah Bentuk Pemerintahan Independen
Rusia juga memiliki pos penyadapan di Suriah yang dijalankan bersamaan dengan stasiun sinyal Suriah, demikian sumber militer Suriah dan intelijen Barat.
Fasilitas Tartous dibangun pada tahun 1971, dan setelah Rusia melakukan intervensi dalam perang saudara untuk membantu Assad, Moskow pada tahun 2017 diberikan sewa gratis selama 49 tahun.
Yoruk Isik, seorang analis geopolitik yang berbasis di Istanbul yang menjalankan Bosphorus Observer, mengatakan bahwa Rusia mungkin mengirim pesawat kargo keluar dari Suriah melalui Kaukasus, dan kemudian ke pangkalan udara Al Khadim di Libya.
Dalam laporan Reuters, Sabtu 14/12/2024), di jalan raya yang menghubungkan pangkalan udara Hmeimim ke pangkalan di Tartous, konvoi kendaraan tempur infanteri dan kendaraan logistik Rusia terlihat melaju menuju pangkalan udara, kata seorang jurnalis Reuters.
Konvoi tersebut terhenti karena ada kerusakan pada salah satu kendaraannya, dan tentara berdiri di dekat kendaraan tersebut dan berupaya memperbaiki masalah tersebut.
“Apakah itu pemerintah Rusia, Iran, atau pemerintah sebelumnya yang menindas kami dan mengabaikan hak-hak kami… kami tidak ingin ada intervensi dari Rusia, Iran, atau intervensi asing lainnya,” Ali Halloum, yang berasal dari Latakia dan tinggal di Jablah, kepada Reuters.
Di Hmeimim, Reuters melihat sejumlah tentara Rusia berjalan di sekitar pangkalan seperti biasa, dengan sejumlah jet terparkir di hanggar.
Citra satelit yang diambil pada tanggal 9 Desember oleh Planet Labs menunjukkan, setidaknya ada tiga kapal di armada Mediterania Rusia, dua unit fregat berpeluru kendali dan sebuah kapal tangki tengah ditambatkan sekitar 13 km (8 mil) barat laut Tartous.

