Didukung Pemberontak, Mohammed Al-Bashir Didapuk Jadi PM Sementara Suriah
DAMASKUS, investortrust.id – Mohammed al Bashir didapuk menjadi Perdana Menteri (PM) sementara Pemerintah Suriah setelah Presiden Bashar al-Assad digulingkan. Bashir menyatakan akan menjabat hingga 1 Maret 2025 untuk memimpin pemerintahan transisi.
Baca Juga
Pemberontak Kuasai Damaskus, Runtuhkan Kekuasaan 50 Tahun Rezim Assad di Suriah
Pemimpin sementara Suriah itu mengumumkan bahwa ia mengambil alih pemerintahan negara sebagai perdana menteri sementara dengan dukungan dari pemberontak yang telah menggulingkan Assad tiga hari lalu.
Dalam pidato singkat di televisi negara, Mohammed al-Bashir, tokoh yang kurang dikenal di sebagian besar Suriah dan sebelumnya memimpin pemerintahan di wilayah kecil barat laut yang dikuasai pemberontak, mengatakan bahwa ia akan memimpin pemerintahan sementara hingga 1 Maret.
"Hari ini kami mengadakan rapat kabinet yang melibatkan tim dari pemerintahan Keselamatan di Idlib dan sekitarnya, serta pemerintahan rezim yang telah digulingkan. Pertemuan ini bertujuan untuk mengalihkan berkas dan institusi guna merawat pemerintahan," katanya, dilansir dari Reuters, Selasa (10/12/2024)
Mohammed al-Bashir memiliki profil politik yang terbatas di luar provinsi Idlib, wilayah kecil dan sebagian besar pedesaan di barat laut, tempat pemberontak mempertahankan administrasi selama bertahun-tahun. Sebuah halaman Facebook administrasi pemberontak menyebutkan bahwa ia dilatih sebagai insinyur listrik, kemudian memperoleh gelar dalam syariah dan hukum, serta memegang berbagai jabatan di bidang pendidikan.
Di belakangnya, terdapat dua bendera, yaitu bendera hijau, hitam, dan putih yang digunakan oleh oposisi Assad selama perang sipil, serta bendera putih dengan tulisan hitam berupa kalimat tauhid, yang biasanya digunakan oleh kelompok pejuang Islam Sunni di Suriah.
Di ibu kota Suriah, bank-bank kembali dibuka untuk pertama kalinya sejak jatuhnya Assad. Toko-toko mulai beroperasi, lalu lintas kembali ke jalan, pekerja konstruksi memperbaiki bundaran di pusat kota Damaskus, dan petugas kebersihan membersihkan jalan-jalan.
Jumlah pria bersenjata di jalanan tampak berkurang. Dua sumber dekat pemberontak mengatakan bahwa komando mereka telah memerintahkan para pejuang untuk menarik diri dari kota-kota dan mengizinkan polisi serta pasukan keamanan internal yang berafiliasi dengan kelompok pemberontak utama, Hayat Tahrir al-Sham (HTS), untuk mengambil alih.
Serangan Udara Israel
Langkah menuju normalisasi berlangsung meskipun ada serangan udara intensif dari Israel. Tentara Israel menargetkan basis militer tentara Suriah, yang pasukannya melebur di hadapan serangan cepat pemberontak yang menggulingkan Assad.
Israel, yang telah mengirim pasukan ke zona demiliterisasi di dalam wilayah Suriah, mengakui pada Selasa bahwa pasukannya juga telah menempati beberapa posisi di luar zona tersebut, meskipun menyangkal bahwa mereka maju menuju Damaskus.
Langkah ini menambah tantangan keamanan bagi pemerintahan baru, meskipun Israel bersikeras bahwa intervensinya bersifat sementara.
Serangan Israel di barat daya Suriah dan serangan udara terhadap basis militer memicu kecaman dari Iran, Turki, Mesir, Qatar, dan Arab Saudi.
Baca Juga
Iran Kecam Aksi Israel di Suriah, Netanyahu Berkilah Lindungi Warga
Sementara itu, utusan PBB untuk Suriah, Geir Pedersen, meredam kekhawatiran tentang HTS yang sebelumnya dianggap sebagai organisasi teroris. "Kenyataannya, HTS dan kelompok bersenjata lainnya sejauh ini telah mengirimkan pesan positif kepada rakyat Suriah ... tentang persatuan dan inklusivitas," katanya dalam pengarahan di Jenewa.

