IEA Siap Lepas Cadangan Bahan Bakar Diesel, Harga Minyak Turun
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Harga minyak mentah turun setelah negara-negara anggota International Energy Agency (IEA) sepakat memprioritaskan pelepasan cadangan diesel untuk meredakan tekanan harga bahan bakar yang meningkat.
Dikutip dari CNBC, harga minyak Brent, patokan minyak global, turun 38 sen menjadi US$100,20 per barel pada Rabu (7/10/2026). Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun US$1,16 menjadi US$88,28 per barel.
Baca Juga
Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol mengatakan negara-negara anggota sepakat mendukung “prioritas pelepasan cadangan diesel, sejauh memungkinkan, mengingat kondisi pasar diesel yang saat ini ketat.”
Langkah tersebut dilakukan ketika pasar energi masih menghadapi gangguan pasokan akibat perang Iran serta meningkatnya risiko geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Menurut Birol, negara-negara anggota IEA telah mengeluarkan sekitar 325 juta barel minyak dari cadangan darurat berdasarkan rencana aksi darurat yang diluncurkan pada Maret untuk mengatasi gangguan pasokan akibat perang Iran.
Dengan demikian, masih terdapat sekitar 100 juta barel yang belum dilepaskan dari rencana tersebut.
Secara keseluruhan, negara-negara anggota IEA masih memiliki cadangan darurat setara 1,1 miliar barel, termasuk lebih dari 200 juta barel diesel.
“IEA siap melepaskan lebih banyak cadangan ini ke pasar jika dan ketika diperlukan,” kata Birol.
Keputusan tersebut muncul beberapa hari setelah negara-negara G7 sepakat melepaskan cadangan diesel di tengah tekanan pemerintahan Presiden AS Donald Trump. Namun, hingga kini belum diketahui secara pasti berapa banyak diesel yang akan dilepas oleh negara-negara G7.
Harga minyak sempat bergerak naik pada awal perdagangan setelah kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman melancarkan serangan baru terhadap Arab Saudi. Perkembangan tersebut memicu kekhawatiran bahwa pemulihan ekspor minyak Timur Tengah masih rentan terhadap gangguan baru.
Aliran minyak melalui pipa East-West milik Arab Saudi telah mencapai 5,8 juta barel hingga Selasa pagi, menurut Menteri Energi Arab Saudi Pangeran Abdulaziz bin Salman.
Pipa tersebut ditutup pada awal September setelah mengalami kerusakan akibat serangan drone.
Namun, pemulihan infrastruktur energi Saudi kembali menghadapi ancaman setelah otoritas penerbangan Arab Saudi melaporkan bandara di Jazan dan Najran menjadi sasaran dua serangan pada Senin, di tengah meningkatnya permusuhan antara Houthi dan kerajaan tersebut.
Risiko Hormuz Hantui Pasar
Selain ancaman dari Yaman, pasar minyak juga kembali mengkhawatirkan meningkatnya serangan Iran terhadap kapal tanker yang melintas di Selat Hormuz.
Baca Juga
Trump Tolak Proposal Iran Terkait Selat Hormuz, Harga Minyak Naik
Kondisi tersebut menciptakan tekanan ganda bagi pasar. Di satu sisi, pasokan fisik mulai membaik dengan pulihnya sejumlah jalur ekspor dan infrastruktur energi. Di sisi lain, risiko geopolitik tetap tinggi dan dapat kembali mengganggu pasokan.
Naeem Aslam, chief investment officer Zaye Capital Markets, mengatakan harga minyak saat ini berada di antara membaiknya pasokan fisik dan risiko geopolitik yang terus bertahan.
Samer Hasn, analis pasar senior di platform perdagangan valuta asing XS.com, menilai kemampuan Houthi menyerang fasilitas minyak yang berada ratusan kilometer dari perbatasan membuat risiko gangguan besar terhadap pasokan minyak mentah tetap tinggi.
Menurut dia, risiko tersebut dapat meningkat jika Houthi berusaha memberikan tekanan lebih besar setelah kehilangan lebih banyak wilayah.
Bagi pasar minyak, kondisi tersebut membuat penurunan harga belum sepenuhnya mencerminkan hilangnya risiko pasokan. Pelepasan cadangan diesel oleh IEA dan G7 dapat membantu meredakan tekanan jangka pendek, tetapi ketidakpastian mengenai keamanan jalur energi utama masih menjadi faktor penentu arah harga minyak.
