Harga Minyak Bergerak Turun, Ini Faktor Penyebabnya
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id – Harga minyak dunia menurun setelah meningkatnya ekspor minyak mentah dari Timur Tengah dan keputusan negara-negara Kelompok Tujuh (G7) melepas cadangan energi. Hal ini menambah pasokan global, sehingga meredakan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan akibat konflik di Timur Tengah.
Baca Juga
Harga Minyak Turun, G7 Lepas Cadangan 100 Juta Barel di Tengah Ancaman Serangan Saudi ke Houthi
Dikutip dari CNBC, minyak mentah Brent turun 1,9% pada perdagangan Senin (5/10/2026) dan ditutup di level US$100,32 per barel. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melemah sekitar 1,8% menjadi US$89,43 per barel.
Penurunan harga terjadi setelah negara-negara G7 pada Jumat lalu sepakat melepas 100 juta barel cadangan minyak mentah dan solar dari stok darurat selama empat bulan ke depan. G7 juga berkomitmen untuk tidak menerapkan pembatasan ekspor energi, menyusul tekanan dari Presiden AS Donald Trump guna meredam lonjakan harga bahan bakar.
Tambahan pasokan tersebut datang bersamaan dengan meningkatnya ekspor minyak dari Timur Tengah. Data pengiriman menunjukkan volume ekspor kawasan itu melampaui tingkat sebelum perang pada empat dari tujuh hari terakhir September, meskipun serangan terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz masih terjadi.
Analis utama KCM Trade, Tim Waterer, mengatakan keputusan G7 menggunakan cadangan strategis telah mengurangi kecemasan pasar terhadap risiko pasokan jangka pendek.
Selain itu, pasar juga mulai melihat volume ekspor Arab Saudi bergerak kembali menuju level sebelum perang, meskipun distribusi minyak masih menempuh rute yang lebih mahal dan kurang efisien.
“Kombinasi kedua faktor tersebut cukup untuk menekan harga saat ini, meskipun risiko kerusakan lebih lanjut terhadap infrastruktur energi di kawasan Teluk belum hilang,” ujar Waterer, dilansir CNBC.
Kontrak berjangka gasoil ICE justru naik lebih dari 2% menjadi US$1.390,25 per ton, mencerminkan masih tingginya permintaan dan kekhawatiran terhadap pasokan bahan bakar sulingan.
Risiko Geopolitik Masih Tinggi
Di tengah pelemahan harga minyak, ketegangan geopolitik di Timur Tengah tetap meningkat. Kelompok Houthi mengeklaim meluncurkan rudal balistik dan drone ke fasilitas Saudi Aramco di Riyadh dan wilayah Khurais sebagai balasan atas sekitar 50 serangan udara dan rudal yang dipimpin Arab Saudi di Yaman dalam 12 jam terakhir. Belum ada konfirmasi resmi dari pemerintah Arab Saudi terkait serangan tersebut.
Baca Juga
Hindari Serangan Houthi, Arab Saudi Alihkan Ekspor Minyak Lewat Mediterania
Pada Minggu, pemerintah Yaman yang diakui secara internasional dan didukung Arab Saudi mengumumkan operasi militer besar untuk merebut kembali seluruh wilayah yang dikuasai Houthi yang didukung Iran.
Di sisi lain, Saudi Aramco secara mengejutkan memangkas harga jual resmi minyak mentah untuk pasar Asia pada November ke level terendah dalam enam tahun.
Analis ING menyebut harga Brent masih bertahan di atas US$100 per barel karena ketegangan geopolitik yang berlanjut serta meningkatnya serangan terhadap kapal-kapal komersial di kawasan Teluk.
Baca Juga
OPEC+ Pertahankan Produksi, Pasokan Minyak Global Masih Dibayangi Perang AS-Iran
Konflik Iran juga mendorong OPEC+ menunda peninjauan kapasitas produksi yang akan menjadi dasar penetapan kuota produksi tahun 2027. Ketidakpastian terkait proyek ekspansi kapasitas di Timur Tengah membuat perkiraan produksi masa depan sulit dilakukan.
Sementara itu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy mengatakan negaranya akan meningkatkan serangan terhadap kilang minyak Rusia, yang berpotensi menambah risiko terhadap pasokan energi global.
