Singapura Perketat Kebijakan Moneter, Waspadai Dampak Lonjakan Harga Energi
Poin Penting
|
SINGAPURA, investortrust.id – Otoritas Moneter Singapura (Monetary Authority of Singapore/MAS) kembali memperketat kebijakan moneternya untuk kedua kalinya secara berturut-turut. Langkah tersebut diambil sebagai upaya antisipatif menghadapi lonjakan harga minyak dunia yang berpotensi kembali memicu inflasi, meskipun tekanan harga di dalam negeri masih relatif terkendali.
Baca Juga
Trump Pertimbangkan Serangan Masif ke Iran, Harga Minyak Justru Turun dan Opsi Damai Dibuka
Dalam pernyataannya pada Senin, MAS mengumumkan akan sedikit meningkatkan laju apresiasi nilai tukar efektif nominal dolar Singapura (Singapore dollar nominal effective exchange rate/S$NEER). Besaran penyesuaian kali ini lebih kecil dibandingkan langkah pengetatan yang dilakukan pada April lalu.
Sementara itu, lebar pita kebijakan (policy band) dan titik tengah nilai tukar tetap dipertahankan tanpa perubahan.
Berbeda dengan sebagian besar bank sentral dunia yang mengendalikan inflasi melalui suku bunga acuan, MAS menggunakan nilai tukar dolar Singapura sebagai instrumen utama kebijakan moneter. Nilai tukar dikelola terhadap sekeranjang mata uang mitra dagang dalam kisaran tertentu yang tidak dipublikasikan.
"Dalam lingkungan yang masih dipenuhi ketidakpastian tinggi, penyesuaian kebijakan yang terukur ini melanjutkan langkah pengetatan yang telah dilakukan pada April," demikian pernyataan MAS.
Waspadai Inflasi
Inflasi inti Singapura, yang tidak memasukkan biaya perumahan dan transportasi, meningkat tipis menjadi 1,6% pada Juni 2026 dari 1,4% pada Mei. Angka tersebut masih berada di dekat batas bawah proyeksi inflasi inti MAS tahun ini yang berkisar antara 1,5% hingga 2,5%.
Sementara itu, inflasi umum tercatat sebesar 1,9%.
Lembaga riset BMI, bagian dari Fitch Solutions, menyebut kenaikan harga bahan bakar transportasi sejak pecahnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran sebenarnya telah memberikan tekanan terhadap inflasi. Namun, tekanan tersebut sebagian besar berhasil diimbangi oleh perlambatan inflasi di sektor jasa, terutama layanan kesehatan, komunikasi, dan pendidikan.
Meski demikian, BMI memperingatkan bahwa dampak kenaikan biaya impor umumnya baru terasa pada harga konsumen beberapa bulan kemudian.
"Kenaikan biaya impor biasanya diteruskan ke harga konsumen dengan jeda waktu, sehingga kami masih memperkirakan inflasi akan meningkat dalam beberapa bulan ke depan," tulis BMI, dikutip dari CNBC, Senin (27/6/2026).
Harga Minyak
Sebagai negara yang hampir sepenuhnya bergantung pada impor energi, Singapura sangat rentan terhadap kenaikan harga minyak dunia.
Risiko tersebut meningkat setelah harga minyak Brent kembali menembus US$100 per barel pada pekan lalu. Kenaikan dipicu serangan kelompok Houthi terhadap dua kapal tanker Arab Saudi di Laut Merah, yang kembali memunculkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak global setelah gencatan senjata di Timur Tengah runtuh.
Baca Juga
Kapal Tanker Saudi Diserang di Laut Merah, Minyak Brent Tembus US$ 100 per Barel
Lonjakan harga energi berpotensi meningkatkan biaya impor Singapura dan pada akhirnya mendorong inflasi domestik.
Di tengah meningkatnya ketidakpastian global, perekonomian Singapura justru menunjukkan kinerja yang lebih baik dari perkiraan.
Produk Domestik Bruto (PDB) Singapura tumbuh 5,7% pada kuartal II-2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut melampaui median proyeksi Reuters sebesar 5,5% dan jauh lebih tinggi dibandingkan target pertumbuhan pemerintah untuk sepanjang tahun yang berada di kisaran 2% hingga 4%.
Kinerja tersebut terutama ditopang oleh meningkatnya permintaan global terhadap teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang mendorong lonjakan ekspor produk elektronik Singapura.
Meski demikian, para ekonom menilai tantangan ke depan masih besar. Kenaikan harga energi, ketegangan geopolitik di Timur Tengah, serta ketidakpastian perdagangan global diperkirakan akan tetap menjadi faktor utama yang memengaruhi prospek inflasi dan pertumbuhan ekonomi Singapura dalam beberapa bulan mendatang.

