BI Perketat Moneter untuk Jaga Rupiah
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Bank Indonesia (BI) melanjutkan operasi moneter ketat untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah meningkatnya volatilitas pasar keuangan global akibat eskalasi ketegangan di Timur Tengah.
Berdasarkan BRI Weekly Economic Update W4 April 2026 yang disusun Office of Chief Economist Group BRI, Macroeconomics & Financial Market Analytics Department, dan diterbitkan di Jakarta, Selasa (28/04/2026), BI mempertahankan BI-Rate di level 4,75% dalam Rapat Dewan Gubernur pada 22 April 2026. Keputusan tersebut mencerminkan prioritas BI menjaga stabilitas rupiah, meski tetap memberi dukungan bagi pertumbuhan ekonomi melalui kebijakan makroprudensial yang pro-growth.
Stance moneter yang tetap ketat itu terlihat dari kenaikan yield Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) pada tenor 6 bulan, 9 bulan, dan 12 bulan. Kenaikan yield tersebut diiringi peningkatan outstanding SRBI menjadi sekitar Rp885,41 triliun, menunjukkan SRBI semakin diintensifkan sebagai instrumen stabilisasi likuiditas dan nilai tukar.
Baca Juga
Namun, kenaikan yield belum sepenuhnya mampu menahan arus keluar asing. Pada pekan keempat April 2026, investor asing mencatat net outflow SRBI sebesar Rp4,15 triliun, berbalik dari net inflow Rp11,96 triliun pada pekan sebelumnya. Kondisi ini menandakan bahwa imbal hasil yang lebih tinggi belum cukup untuk menarik minat asing secara berkelanjutan di tengah risiko global yang masih tinggi.
Tekanan juga terlihat di pasar Surat Berharga Negara (SBN). Mayoritas yield SBN meningkat, terutama pada tenor pendek hingga menengah, mencerminkan naiknya premi risiko dan sikap hati-hati investor. Net inflow asing ke pasar obligasi turun menjadi hanya US$0,01 miliar, dari US$0,03 miliar pada pekan sebelumnya.
Meski demikian, pasar SBN masih ditopang oleh permintaan domestik. Porsi kepemilikan bank dan nonbank residen meningkat, sementara porsi Bank Indonesia dan nonbank asing menurun. Hal ini menunjukkan likuiditas domestik masih cukup kuat untuk menjaga stabilitas pasar obligasi dan menahan kenaikan yield yang lebih tajam.
Di pasar saham, tekanan jauh lebih terasa. IHSG melemah 6,61% secara mingguan ke level 7.129 pada pekan keempat April 2026. Pelemahan dipicu oleh meningkatnya tensi Timur Tengah serta keputusan MSCI memperpanjang penundaan reviu indeks saham Indonesia hingga Juni 2026. Rencana MSCI mengeluarkan saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi dari indeks turut menekan pasar.
Saham berkapitalisasi besar seperti DSSA dan BREN menjadi pemberat utama, masing-masing terkoreksi 37,85% dan 30,26% secara mingguan. Sektor energi, real estat, dan konsumsi siklikal mencatat koreksi terdalam.
Tekanan global juga datang dari lonjakan harga minyak. Harga Brent melonjak 16,5% secara mingguan ke US$105,3 per barel, dipicu gagalnya rencana negosiasi AS-Iran dan berlanjutnya blokade Selat Hormuz. Kenaikan harga energi ini memperbesar risiko inflasi global dan mempersempit ruang pelonggaran moneter bank sentral dunia, termasuk The Fed.
Dengan latar tersebut, kebijakan BI untuk menahan suku bunga dan memperkuat operasi moneter menjadi sinyal bahwa stabilitas rupiah masih menjadi prioritas utama. Di tengah arus modal asing yang lebih selektif, pasar domestik kini semakin bertumpu pada kekuatan likuiditas dalam negeri.
Rupiah Tetekan
Rupiah masih bergerak dalam tekanan pada perdagangan Selasa (28/04/2026) pukul 15.15 WIB. Berdasarkan data kurs yang diperbarui pada 28 April 2026, kurs jual dolar AS tercatat Rp17.313,13, sedangkan kurs beli berada di Rp17.140,87 per dolar AS.
Tekanan terhadap rupiah juga terlihat terhadap sejumlah mata uang utama dunia. Euro mencatat kurs jual Rp20.334,27 dan kurs beli Rp20.128,52, sementara poundsterling Inggris berada di kurs jual Rp23.452,37 dan kurs beli Rp23.217,31.
Baca Juga
Franc Swiss menjadi salah satu mata uang utama dengan nilai tertinggi terhadap rupiah, dengan kurs jual Rp22.063,37 dan kurs beli Rp21.838,29. Sementara itu, dolar Singapura tercatat pada kurs jual Rp13.595,99 dan kurs beli Rp13.454,37.
Di kawasan Asia, yen Jepang berada di kurs jual Rp10.873,03 dan kurs beli Rp10.764,17 per 100 yen. Yuan China tercatat di kurs jual Rp2.536,87 dan kurs beli Rp2.511,34, sedangkan ringgit Malaysia berada di kurs jual Rp4.380,85 dan kurs beli Rp4.332,88.
Pergerakan kurs ini terjadi di tengah kebijakan moneter Bank Indonesia yang tetap diarahkan untuk menjaga stabilitas rupiah. Sebelumnya, BI mempertahankan BI-Rate di level 4,75% dalam RDG 22 April 2026, sejalan dengan operasi moneter yang lebih ketat melalui instrumen SRBI untuk menahan tekanan nilai tukar.

