Trump Pertimbangkan Serangan Masif ke Iran, Harga Minyak Justru Turun dan Opsi Damai Dibuka
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust — Konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memasuki fase yang semakin menegangkan. Presiden AS Donald Trump mengungkapkan sedang mempertimbangkan “serangan besar-besaran” (massive attack) terhadap Iran, yang disebut akan menjadi operasi militer terbesar sejak perang kedua negara pecah hampir lima bulan lalu.
Namun, di tengah ancaman tersebut, muncul upaya diplomasi baru yang diprakarsai Pakistan dengan dukungan China untuk menghidupkan kembali perundingan damai Washington-Teheran. Harapan terhadap jalur diplomatik itu mendorong penguatan pasar saham global dan menekan harga minyak dunia.
Laporan CNBC yang terbit pada Jumat (24/07/2026) mengutip wawancara Trump dengan Axios menyebutkan Presiden AS mengaku hampir mengambil keputusan mengenai operasi militer baru terhadap Iran. “Saya sedang mempertimbangkan serangan besar, lebih besar daripada apa pun yang telah dilakukan sejauh ini. Kami sudah siap,” kata Trump.
Baca Juga
Houthi Serang Tanker Saudi di Laut Merah, Trump Peringatkan Iran
Meski demikian, ia tidak menyebutkan kapan keputusan final akan diambil. Trump juga menilai Iran “belum merasakan penderitaan yang cukup” akibat operasi militer Amerika selama ini.
Ancaman tersebut muncul ketika militer AS menyelesaikan malam ke-13 berturut-turut serangan udara terhadap sasaran-sasaran Iran. Komando Pusat AS (CENTCOM) terus menggempur fasilitas militer Iran sebagai bagian dari operasi untuk menekan kemampuan serangan Teheran serta menjaga jalur pelayaran internasional di sekitar Selat Hormuz dan Laut Merah. Di sisi lain, Iran mengklaim melancarkan serangan drone terhadap sejumlah fasilitas militer AS di kawasan, termasuk di Yordania, Bahrain, dan Kuwait, sementara ledakan juga dilaporkan terjadi di dekat pangkalan militer AS di Irak utara.
Meski eskalasi militer terus berlangsung, secercah harapan muncul dari jalur diplomasi. Reuters melaporkan pada 24 Juli 2026 bahwa Pakistan sedang mencari cara untuk menghidupkan kembali pembicaraan damai yang sempat terhenti antara Amerika Serikat dan Iran. Upaya tersebut dilakukan setelah adanya dorongan dari China, mitra dagang terbesar Iran, yang berkepentingan menjaga stabilitas kawasan karena gangguan di Timur Tengah telah mengancam jalur perdagangan dan pasokan energi global.
Dalam kerangka diplomasi itu, Menteri Dalam Negeri Iran Eskandar Momeni kembali mengunjungi Islamabad untuk kedua kalinya dalam 10 hari. Ia bertemu dengan para pemimpin Pakistan, termasuk Panglima Angkatan Darat Jenderal Asim Munir, guna membahas peluang membuka kembali dialog dengan Washington. Menurut sumber Reuters, Pakistan menilai penghentian serangan terhadap negara-negara Teluk menjadi prasyarat penting bagi dimulainya kembali proses negosiasi.
Trump juga berupaya meredakan spekulasi mengenai keterlibatan kekuatan besar lainnya. Dalam unggahan di Truth Social, ia menyatakan telah memperoleh jaminan langsung dari Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden China Xi Jinping bahwa kedua negara tidak memasok senjata kepada Iran. Trump menegaskan apabila Rusia maupun China ikut terlibat secara militer, konsekuensinya akan sangat serius dan bertentangan dengan kepentingan mereka sendiri.
Sementara itu, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth sebelumnya mengatakan di hadapan Senat bahwa Rusia dan China berada pada tingkat tertentu yang memungkinkan sebagian aktivitas Iran. Namun Trump memilih menegaskan bahwa berdasarkan komunikasi langsung yang diterimanya, Moskow dan Beijing tidak ikut terlibat dalam konflik bersenjata tersebut.
Baca Juga
Harga Minyak Brent Tembus US$ 94, Trump Ancam Serang Infrastruktur Iran
Di lapangan, ketegangan terus meluas. Kelompok Houthi yang didukung Iran mengklaim menyerang dua kapal tanker minyak Arab Saudi di Laut Merah dan mengumumkan embargo maritim terhadap ekspor minyak Saudi melalui Laut Merah dan Selat Bab el-Mandeb. Trump menegaskan Amerika akan menganggap setiap serangan lanjutan Houthi sebagai tindakan Iran dan akan memberikan respons militer yang keras terhadap kedua pihak.
Iran juga meningkatkan tekanan terhadap sekutu-sekutu Amerika. Pemerintah Inggris menyatakan siap mempertahankan diri selama 24 jam sehari setelah Teheran menyebut London sebagai “komplotan” Washington karena mengizinkan penggunaan pangkalan militer Inggris oleh pasukan Amerika untuk operasi defensif.
Di tengah meningkatnya ancaman perang, pasar keuangan justru merespons positif munculnya peluang diplomasi. Bursa saham AS menguat, sedangkan harga minyak mentah turun lebih dari 4%, setelah sebelumnya sempat menembus US$100 per barel. Pelaku pasar menilai peluang dimulainya kembali perundingan damai, meskipun masih jauh dari tercapai, telah mengurangi kekhawatiran bahwa konflik akan berkembang menjadi perang regional yang mengganggu pasokan energi dunia secara berkepanjangan.
Meski demikian, berbagai analis menilai situasi masih sangat rapuh. Selama operasi militer AS dan serangan balasan Iran terus berlangsung, serta ancaman terhadap jalur pelayaran di Selat Hormuz dan Laut Merah belum berakhir, volatilitas harga minyak dan pasar keuangan global diperkirakan tetap tinggi. Keberhasilan Pakistan dan China membuka kembali jalur diplomasi dipandang sebagai faktor yang akan sangat menentukan arah konflik dan stabilitas ekonomi global dalam beberapa pekan mendatang.

