Kapal Tanker Saudi Diserang di Laut Merah, Minyak Brent Tembus US$ 100 per Barel
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Harga minyak dunia melonjak tajam setelah adanya laporan mengenai serangan terhadap kapal tanker di Laut Merah dan meningkatnya ancaman militer antara Amerika Serikat dan Iran memperbesar kekhawatiran terhadap pasokan energi global.
Baca Juga
Konflik AS-Iran dan Houthi Picu Kekhawatiran Pasokan, Harga Minyak Sentuh Level Tertinggi 5 Pekan
Dikutip dari CNBC, pada perdagangan Kamis (23/7/2026), minyak Brent kembali menembus level psikologis US$100 per barel untuk pertama kalinya sejak 26 Mei dan ditutup naik sekitar 7% di US$100,69 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat sekitar 6% menjadi US$92,19 per barel.
Sepanjang bulan ini, harga minyak telah melonjak lebih dari 30% seiring meningkatnya intensitas konflik di Timur Tengah.
Kelompok Houthi di Yaman yang bersekutu dengan Iran mengaku menyerang dua kapal tanker minyak milik Arab Saudi menggunakan drone dan rudal. Mereka menyatakan serangan dilakukan sebagai bagian dari blokade maritim terhadap Riyadh yang diumumkan pekan ini.
Presiden Donald Trump kemudian menegaskan Amerika Serikat akan meminta pertanggungjawaban Iran atas setiap serangan Houthi terhadap kapal-kapal di Laut Merah. Ia mengancam akan menjatuhkan hukuman militer besar terhadap Teheran dan kelompok militan tersebut.
Dalam wawancara dengan Axios, Trump juga mengatakan sedang mempertimbangkan serangan militer besar terhadap Iran. Menurutnya, operasi tersebut akan menjadi yang terbesar yang pernah dilakukan dan keputusan akhir akan segera diambil.
Ancaman itu muncul hanya beberapa jam setelah Trump menyatakan AS akan menghancurkan jembatan atau pembangkit listrik di Iran setiap kali Teheran menyerang kapal di Selat Hormuz.
Iran merespons dengan memperingatkan akan menyerang infrastruktur dan fasilitas energi yang berkaitan dengan kepentingan Amerika Serikat di kawasan apabila Washington benar-benar melaksanakan ancamannya.
Seorang sumber militer Iran yang dikutip kantor berita Tasnim mengatakan setiap serangan terhadap jembatan atau pembangkit listrik di Iran akan dibalas dengan serangan terhadap infrastruktur strategis dan fasilitas energi di kawasan yang memiliki kepentingan Amerika Serikat.
Baca Juga
Trump Geram dan Ancam Iran Atas Tewasnya 3 Tentara AS, Harga Minyak Kembali Melonjak
Kepala Strategi Komoditas Global RBC Capital Markets, Helima Croft, menilai konflik kini telah memasuki fase yang jauh lebih berbahaya karena meluas dari Teluk Persia hingga Laut Merah, bahkan mulai menyasar infrastruktur penting seperti fasilitas desalinasi air dan pembangkit listrik.
Menurut Croft, tekanan yang terus meningkat di Timur Tengah berpotensi mendorong harga Brent melampaui rekor tahun 2022 sebesar US$128 per barel. Dalam skenario terburuk berupa perang regional berskala penuh, harga bahkan berpeluang melampaui rekor sepanjang masa tahun 2008 di kisaran US$146 per barel.
Selain konflik Timur Tengah, perang Rusia-Ukraina juga memperbesar tekanan terhadap pasar energi dunia. Serangan terhadap kapal tanker di Laut Hitam dan Laut Azov mengganggu aktivitas ekspor minyak Kazakhstan melalui jaringan Caspian Pipeline Consortium (CPC), yang selama ini menjadi jalur utama pengiriman sekitar 80% ekspor minyak negara tersebut.
Gangguan pada jalur pasokan utama tersebut dinilai dapat mempersempit pasokan minyak global dan semakin memperkuat tren kenaikan harga apabila konflik geopolitik terus bereskalasi.
