Harga Minyak Anjlok 2%, Mediasi Qatar-Pakistan Cegah Perang Terbuka AS-Iran
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Harga minyak dunia ditutup melemah setelah muncul harapan bahwa Amerika Serikat (AS) dan Iran akan kembali ke meja perundingan, sehingga mengurangi kekhawatiran pasar terhadap potensi perang terbuka di Timur Tengah.
Baca Juga
Iran Kembali Serang Kapal Tanker, Ancaman di Selat Hormuz Meningkat
Dikutip dari CNBC, minyak mentah Brent, yang menjadi acuan internasional, turun 2,2% dan ditutup di level US$76,30 per barel pada perdagangan Kamis (9/7/2026). Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melemah sekitar 2% ke US$72,08 per barel.
Penurunan terjadi meskipun sebelumnya harga sempat menguat setelah militer AS melancarkan serangan terhadap sekitar 90 sasaran di Iran pada malam sebelumnya. Serangan tersebut merupakan hari kedua berturut-turut aksi militer Washington sebagai balasan atas serangan Iran terhadap kapal-kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz.
Sebagai respons, media pemerintah Iran melaporkan bahwa Teheran meluncurkan rudal dan drone ke sejumlah aset militer AS di Bahrain, Kuwait, Qatar, dan Yordania.
Sehari sebelumnya, harga minyak melonjak tajam. WTI naik 4,4%, mencatat kenaikan harian terbesar sejak 1 Juni, setelah Presiden Donald Trump menyatakan gencatan senjata dengan Iran telah berakhir dan mengancam akan kembali memberlakukan blokade angkatan laut AS. Brent bahkan melonjak 5,4%, menjadi kenaikan harian terbesar sejak 4 Mei.
Baca Juga
Trump Ancam Bombardir Iran, Harga Minyak Brent Melonjak Dekati US$ 80
Meski demikian, pelaku pasar belum memperkirakan Selat Hormuz akan ditutup sepenuhnya. Memang, lalu lintas kapal tanker di jalur strategis tersebut melambat akibat memburuknya kondisi keamanan, namun pasokan minyak global dinilai masih dapat terus mengalir.
Presiden Lipow Oil Associates, Andy Lipow, mengatakan pasar kini mulai menyesuaikan diri dengan kondisi baru, yakni konflik berskala terbatas yang diselingi periode relatif tenang sehingga kapal tanker masih dapat melintas.
Sementara itu, analis Citibank memperkirakan AS dan Iran berpeluang kembali membuka perundingan dalam beberapa pekan ke depan. Kedua negara sama-sama memiliki terlalu banyak kepentingan ekonomi yang dipertaruhkan apabila eskalasi konflik terus berlanjut hingga merusak infrastruktur energi di kawasan.
Citibank juga menilai Presiden Trump memiliki insentif untuk segera kembali ke jalur diplomasi mengingat stabilitas pasar saham dan pasar obligasi menjadi salah satu perhatian utama pemerintahannya.
