Trump Ancam Bombardir Iran, Harga Minyak Brent Melonjak Dekati US$ 80
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Harga minyak dunia melonjak tajam setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan kembali membombardir Iran serta memberlakukan lagi blokade angkatan laut AS sebagai respons atas serangan terhadap kapal-kapal tanker di Selat Hormuz.
Baca Juga
Harga Minyak Dunia Melonjak Setelah Serangan Tanker di Hormuz
Minyak Brent yang menjadi acuan internasional melonjak 5,2% ke US$78,02 per barel pada perdagangan Rabu (8/7/2026), sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) ditutup naik 4,4% menjadi US$73,52 per barel.
Lonjakan harga dipicu pernyataan Trump saat menghadiri KTT NATO di Turki. Ia menilai gencatan senjata dengan Iran telah berakhir setelah Amerika Serikat melancarkan serangan udara terhadap Republik Islam tersebut pada malam sebelumnya.
Ancaman Trump untuk kembali menyerang Iran dan menerapkan blokade laut memicu kekhawatiran bahwa konflik yang kembali memanas dapat mengganggu arus ekspor minyak melalui Selat Hormuz, jalur yang menjadi nadi perdagangan energi dunia.
Meski demikian, penguatan harga minyak sempat mereda setelah Trump mengatakan dirinya tidak yakin konflik akan berkembang menjadi perang berskala penuh.
" Semuanya akan selesai dengan sangat cepat. Mereka menyerang beberapa kapal, lalu kami membalas sepuluh kali lebih keras," ujar Trump.
Kepada CNBC di Ankara, Trump juga mengatakan dirinya memperkirakan harga minyak pada akhirnya akan kembali turun karena kapal-kapal tanker mulai kembali keluar dari Selat Hormuz.
Baca Juga
Kapal Tanker Mulai Ramai Melintas di Selat Hormuz, Harga Minyak Turun Tajam
"Memang akan naik sedikit, tetapi ini akan segera berakhir. Saat ini justru ada kelebihan pasokan minyak karena kapal-kapal sudah kembali keluar dari selat, sehingga harga nantinya akan turun," katanya.
Sementara itu, Iran memperingatkan akan menutup Selat Hormuz dan memberikan respons dengan kekuatan besar apabila kembali diserang Amerika Serikat, menurut laporan media pemerintah PressTV.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan militer AS telah menyerang lebih dari 80 sasaran di Iran, termasuk sistem pertahanan udara, jaringan komando dan kendali, instalasi radar, kemampuan rudal antikapal, serta kapal-kapal cepat milik Iran.
Di sisi lain, Departemen Keuangan AS juga membatalkan izin yang sebelumnya memperbolehkan Iran menjual minyak, sebuah kebijakan yang sebelumnya menjadi bagian dari kesepakatan sementara kedua negara.
Kementerian Luar Negeri Iran mengecam serangan tersebut sebagai "pelanggaran berat" terhadap nota kesepahaman yang disepakati Washington dan Teheran bulan lalu untuk mengakhiri konflik.
Baca Juga
Iran Kembali Serang Kapal Tanker, Ancaman di Selat Hormuz Meningkat
Eskalasi terjadi setelah tiga kapal dagang diserang di atau dekat Selat Hormuz pada Selasa. Menyusul insiden itu, Joint Maritime Information Center yang dipimpin Amerika Serikat menaikkan tingkat ancaman bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz menjadi kategori "severe" dan memperingatkan kemungkinan aksi permusuhan lanjutan dari Iran.
