Diplomasi AS-Iran Kembali Terbuka, Harga Minyak Anjlok
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Harga minyak dunia anjlok tajam pada Selasa (14/4/2026) setelah Gedung Putih memberi sinyal kemungkinan dibukanya kembali jalur diplomasi dengan Iran, meredakan kekhawatiran pasar atas gangguan pasokan energi global.
Baca Juga
Trump: Perundingan dengan Iran Bisa Dilanjutkan Dua Hari ke Depan
Kontrak minyak mentah AS (WTI/West Texas Intermediate) untuk pengiriman Mei turun hampir 8% dan ditutup di level USD 91,28 per barel. Sementara itu, Brent sebagai acuan global melemah lebih dari 4% ke USD 94,79 per barel.
Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan kepada CNBC bahwa pemerintahan Presiden Donald Trump tengah mempertimbangkan putaran lanjutan negosiasi dengan Iran, meskipun belum ada jadwal resmi yang ditetapkan. Trump mengindikasikan perundingan bisa berlangsung setelah dua hari ke depan, menurut beberapa media internasional.
Wakil Presiden JD Vance sebelumnya menegaskan bahwa kelanjutan pembicaraan kini bergantung pada Teheran, setelah perundingan di Islamabad gagal mencapai terobosan.
Di sisi lain, tekanan terhadap pasokan energi tetap tinggi. Angkatan Laut AS telah memulai blokade terhadap pelabuhan Iran di Teluk Persia, langkah yang secara langsung mengancam ekspor minyak Iran melalui Selat Hormuz.
Menurut analis Commonwealth Bank of Australia, Vivek Dhar, ekspor Iran melalui jalur tersebut mencapai sekitar 1,7 juta barel per hari bulan lalu. “Blokade ini semakin memperketat pasar fisik minyak dan produk olahan,” ujarnya, seperti dikutip CNBC.
Baca Juga
Bursa Eropa Melemah Saat AS Mulai Blokade Hormuz, Pasar Dibayangi Lonjakan Harga Minyak
Permintaan Melemah
Namun, prospek permintaan justru melemah. International Energy Agency memperkirakan bahwa lonjakan harga energi akibat konflik Iran akan menekan konsumsi global.
IEA memproyeksikan permintaan minyak akan turun sebesar 1,5 juta barel per hari pada kuartal II—penurunan terbesar sejak pandemi Covid-19. Secara tahunan, permintaan diperkirakan turun 80.000 barel per hari, berbalik tajam dari proyeksi sebelumnya yang memperkirakan kenaikan.

