Diplomasi Membaik, Harga Minyak Anjlok
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust — Harga minyak dunia jatuh lebih dari 4% pada perdagangan Rabu (27/05/2026) setelah Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan Washington akan memberikan “setiap peluang” bagi diplomasi dengan Iran untuk berhasil. Pernyataan itu memperkuat harapan pasar terhadap kemungkinan tercapainya kesepakatan yang dapat meredakan perang dan membuka kembali Selat Hormuz.
Laporan CNBC yang terbit Rabu, 27 Mei 2026 pukul 08.41 EDT dan diperbarui beberapa menit kemudian, menyebut kontrak West Texas Intermediate (WTI) merosot 4,12% menjadi US$90,02 per barel, sementara Brent turun 3,82% ke US$95,78 per barel.
Berbicara dalam rapat kabinet di Gedung Putih pada 27 Mei 2026, Rubio mengatakan pembicaraan dengan Iran menunjukkan kemajuan meski belum final. Ia menegaskan Presiden Donald Trump masih lebih memilih jalur diplomasi, meski opsi lain tetap tersedia apabila negosiasi gagal.
“The bottom line is that we prefer the negotiated diplomatic route and we’re going to give it every chance to succeed,” kata Rubio.
Namun Rubio juga memberi sinyal keras bahwa Washington tetap memiliki opsi lain—yang dipahami pasar sebagai kemungkinan serangan militer baru bila pembicaraan kandas. Pernyataan itu muncul setelah pasukan AS melancarkan serangan yang disebut Pentagon sebagai defensive strikes di Iran selatan awal pekan ini, sementara Tehran berjanji melakukan pembalasan.
Baca Juga
IRGC Berencana Kenakan “Transit Toll” di Hormuz, Harga Minyak Melonjak Lagi
Reaksi pasar berlangsung cepat. Reuters pada 27 Mei 2026 melaporkan harga minyak turun lebih dari 5% setelah televisi pemerintah Iran mengklaim telah melihat draf kesepakatan antara Tehran dan Washington mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz dan pengakhiran konflik.
Dalam perdagangan terakhir yang dikutip Reuters, Brent turun US$3,94 menjadi sekitar US$95,59 per barel, sedangkan WTI merosot US$3,97 ke US$88,91, level terendah dalam sekitar satu bulan. Penurunan itu menghapus sebagian besar premi risiko geopolitik yang sebelumnya mendorong harga minyak melonjak akibat perang Timur Tengah.
Hormuz Titik Kunci
Fokus pasar tetap tertuju pada Selat Hormuz, jalur strategis yang sebelum perang mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak dunia dan sebagian besar LNG Teluk.
Trump dalam rapat kabinet yang sama menegaskan AS tidak akan membiarkan Iran mengendalikan Selat Hormuz sebagai bagian dari kesepakatan apa pun. Pernyataan itu sekaligus membantah spekulasi bahwa Washington siap menyerahkan kontrol jalur laut tersebut kepada Tehran.
Sebelumnya, televisi pemerintah Iran IRIB melaporkan Tehran bersedia memulihkan lalu lintas komersial di Hormuz ke level sebelum perang dalam waktu satu bulan setelah tercapai kesepakatan dengan AS. Skema yang dibahas disebut melibatkan pengelolaan pelayaran bersama Iran dan Oman. Namun Gedung Putih langsung membantah laporan itu dan menyebutnya sebagai “complete fabrication” atau rekayasa sepenuhnya.
Reuters melaporkan, draf kesepakatan yang beredar menyebut AS akan menarik pasukan dari sekitar Iran dan mencabut blokade pelabuhan Iran, sementara Tehran memulihkan arus kapal komersial. Meski demikian, belum ada konfirmasi resmi dari Washington maupun pemerintah Iran mengenai kerangka final kesepakatan tersebut.
Arus Minyak
Meski sentimen pasar membaik, kalangan industri menilai pemulihan pasokan energi melalui Hormuz tidak akan terjadi cepat. Kepala Abu Dhabi National Oil Co. (ADNOC), Sultan Ahmed Al Jaber, mengatakan bahkan jika perang berakhir segera, arus minyak hanya dapat pulih ke 80% level normal dalam waktu minimal empat bulan, sementara pemulihan penuh kemungkinan baru terjadi pada kuartal I atau II 2027.
Al Jaber sebelumnya juga menegaskan bahwa Selat Hormuz bukan wilayah yang dapat ditutup atau dikendalikan sepihak oleh Iran, mencerminkan keberatan kuat negara-negara Teluk terhadap gagasan penguasaan jalur pelayaran tersebut.
Data Reuters menunjukkan beberapa tanker memang mulai kembali melintasi Hormuz dalam dua pekan terakhir, tetapi volume masih jauh dari normal dan perusahaan pelayaran tetap berhati-hati karena risiko serangan maupun ketidakpastian politik.
Baca Juga
Reaksi Pasar
Pergerakan harga minyak saat ini mencerminkan pasar yang terombang-ambing antara dua skenario: kesepakatan damai AS–Iran atau kembalinya eskalasi militer.
Reuters melaporkan Rubio sebelumnya mengakui terdapat “good signs” dalam pembicaraan, tetapi isu sensitif seperti pengayaan uranium Iran dan status Selat Hormuz masih menjadi batu sandungan utama. Ia juga menolak keras wacana pungutan atau tolling system di Hormuz yang sempat muncul dalam diskusi diplomatik.
Optimisme terhadap diplomasi turut menopang pasar saham global. Reuters mencatat indeks saham AS dan Eropa bergerak dekat rekor tertinggi seiring ekspektasi bahwa meredanya konflik Timur Tengah akan membantu menurunkan tekanan inflasi energi global.
Dengan demikian, posisi terakhir Hormuz hingga 27 Mei 2026 masih berada dalam fase negosiasi dan pemulihan terbatas, belum kembali normal seperti sebelum perang. Pasar energi global kini bertaruh pada satu pertanyaan besar: apakah diplomasi Trump–Rubio mampu membuka kembali jalur minyak terpenting dunia, atau justru hanya jeda sebelum konflik kembali memanas.

