Harga Minyak Melonjak, Pasar Cermati Arah Diplomasi Pertemuan Trump–Zelenskyy
Poin Penting
- Harga Brent naik 1,14% ke $66,60, WTI menguat 0,99% ke $63,42.
- Trump desak Ukraina lepaskan Krimea dan NATO, selaras dengan Moskow.
- Navarro tuding India biayai perang Rusia lewat impor minyak mentah.
- Investor waspadai pasokan global di tengah tarik-menarik diplomasi.
NEW YORK, investortrust.id - Harga minyak dunia ditutup menguat pada awal pekan ini, ditopang ketidakpastian geopolitik usai pertemuan Presiden AS Donald Trump dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy di Washington, Senin (18/8/2025). Diskusi itu digelar hanya beberapa hari setelah KTT AS–Rusia di Alaska gagal menghasilkan kesepakatan.
Minyak Brent naik 75 sen, atau 1,14%, menjadi ditutup pada $66,60 per barel. Minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) naik 62 sen, atau 0,99%, menjadi ditutup pada $63,42 per barel.
Pekan lalu Brent turun 1,1% sementara WTI merosot 1,7%.
Presiden AS Donald Trump dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy bertemu saat mereka berupaya mencapai kesepakatan damai untuk mengakhiri perang paling mematikan di Eropa dalam 80 tahun terakhir.
Investor mencermati potensi dampak terhadap pasokan minyak global, dengan kemungkinan baik dari pengetatan sanksi maupun langkah menuju rekonsiliasi.
“Saya tidak percaya pasar minyak telah memperhitungkan perdamaian penuh yang berpotensi dapat membuat harga minyak mentah dan gas Eropa mengalami tekanan lebih lanjut,” kata Ole Hansen, ahli strategi komoditas di Saxo Bank, seperti dikutip CNBC.
Trump pada Senin mengatakan kepada Ukraina untuk melepaskan harapan mendapatkan kembali Krimea yang dianeksasi atau bergabung dengan NATO, dengan posisi yang semakin sejalan dengan Moskow untuk mencari kesepakatan damai alih-alih gencatan senjata terlebih dahulu setelah pertemuannya dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Alaska pada Jumat.
KTT Alaska berakhir tanpa kesepakatan untuk menyelesaikan atau menghentikan perang, meski Trump keluar dari pembicaraan dengan posisi lebih selaras dengan Moskow dalam mencari kesepakatan damai ketimbang gencatan senjata lebih dulu.
Sementara itu, penasihat perdagangan Gedung Putih Peter Navarro mengatakan pembelian minyak mentah Rusia oleh India mendanai perang Moskow di Ukraina dan harus dihentikan, memicu kembali kekhawatiran tentang arus pasokan.
“India bertindak sebagai rumah kliring global untuk minyak Rusia, mengonversi minyak mentah yang terkena embargo menjadi ekspor bernilai tinggi sekaligus memberikan dolar yang dibutuhkan Moskow,” beber Navarro. Pernyataan itu memicu minat beli di pasar, kata analis SEB Ole Hvalbye.
“Pernyataan keras penasihat AS tentang impor minyak mentah Rusia oleh India, ditambah dengan pembicaraan dagang yang ditunda, kembali memunculkan kekhawatiran bahwa aliran energi tetap disandera oleh gesekan dagang dan diplomatik, bahkan ketika prospek perdamaian di Ukraina semakin cerah,” urai Priyanka Sachdeva, analis pasar senior di broker Phillip Nova:

