Harga Minyak Jatuh di Tengah Diplomasi Tegang AS-Iran dan Manuver Hormuz
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Harga minyak global turun meski ketegangan geopolitik meningkat di Timur Tengah, setelah Iran mengeklaim ada kemajuan dalam perundingan nuklir dengan Amerika Serikat di Jenewa. Pasar energi tampak lebih percaya pada jalur diplomasi ketimbang ancaman militer, sehingga premi risiko geopolitik menyusut.
Baca Juga
Harga Minyak ‘Drop’ Hampir 3% Setelah IEA Pangkas Proyeksi Permintaan
Dikutip dari CNBC, minyak mentah AS (WTI) Selasa (17/2/2026) ditutup turun 0,89% ke US$62,33 per barel, sementara Brent merosot 1,79% ke US$67,42 per barel. Pelemahan terjadi meskipun Iran sempat menutup sebagian Strait of Hormuz—jalur vital yang menyalurkan sekitar sepertiga ekspor minyak mentah global melalui laut.
Penutupan sementara itu dilakukan di tengah latihan militer Garda Revolusi Iran. Namun, gangguan hanya berlangsung beberapa jam dan dinilai tidak mengganggu arus pasokan secara signifikan. Sekitar 13 juta barel per hari minyak mentah melewati Hormuz pada 2025, menjadikannya titik sempit energi paling strategis di dunia.
Di saat bersamaan, pembicaraan antara Teheran dan Washington menunjukkan kemajuan awal. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyebut kedua pihak mencapai “kesepakatan umum” mengenai prinsip-prinsip panduan. Meski demikian, jalan menuju kesepakatan final masih panjang.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengancam aksi militer jika Iran tidak menyetujui pembatasan program nuklirnya. Ancaman itu meningkatkan ketegangan kawasan dalam beberapa pekan terakhir, termasuk peningkatan kehadiran militer kedua pihak.
Diplomasi vs Risiko Pasokan
Pasar minyak kini berada di persimpangan antara risiko geopolitik dan fundamental pasokan-permintaan global.
Dari sisi pasokan, produksi global relatif stabil. Negara-negara anggota OPEC dan sekutunya (OPEC+) masih menjalankan kebijakan pengelolaan produksi yang hati-hati untuk menjaga keseimbangan harga. Jika ketegangan Iran mereda dan sanksi dilonggarkan, potensi tambahan ekspor minyak Iran bisa menambah suplai global, memberi tekanan tambahan pada harga.
Dari sisi permintaan, pertumbuhan konsumsi minyak global tahun ini cenderung moderat di tengah perlambatan ekonomi di sejumlah negara besar. Kombinasi suplai yang cukup dan permintaan yang tidak melonjak membuat pasar lebih sensitif terhadap sinyal diplomatik dibandingkan eskalasi retoris.
Baca Juga
Urusan Nuklir Belum Rampung, Iran dan AS Janjian Ketemu di Jenewa Pekan Depan
Penutupan parsial Hormuz menjadi pengingat betapa rentannya perdagangan energi global terhadap dinamika geopolitik. Meski gangguan kali ini minim, risiko premi asuransi kapal dan biaya pengiriman bisa meningkat jika ketegangan berlanjut.
Bagi importir utama Asia dan Eropa, stabilitas jalur Hormuz sangat krusial. Setiap ancaman penutupan penuh berpotensi memicu lonjakan harga tajam dan gangguan pasokan jangka pendek. Namun selama jalur diplomasi masih terbuka, pasar tampaknya menahan diri dari aksi beli spekulatif besar-besaran.
Ke depan, arah harga minyak akan sangat ditentukan oleh dua faktor utama: hasil konkret perundingan AS-Iran dan sikap OPEC+ terhadap keseimbangan produksi. Jika negosiasi gagal dan eskalasi meningkat, harga bisa melonjak cepat. Sebaliknya, kemajuan diplomasi ditambah suplai yang longgar berpotensi menekan Brent kembali ke kisaran bawah US$60-an.

