Harga Minyak Turun Tipis, Pasar Tunggu Sinyal Diplomasi AS-Iran
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga minyak global turun tipis pada Selasa (11/2/2026) karena pelaku pasar menunggu perkembangan hubungan diplomatik Amerika Serikat (AS) dan Iran, upaya mengakhiri perang Rusia-Ukraina, serta data ekonomi dan persediaan minyak AS yang berpotensi menentukan arah harga energi dunia.
Minyak Brent turun 0,35% menjadi US$ 68,80 per barel atau sekitar Rp 1,06 juta per barel. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun 0,62% menjadi US$ 63,96 per barel atau sekitar Rp 989.000 per barel.
Analis perusahaan konsultan energi Gelber & Associates menilai pelaku pasar masih berhati-hati menunggu kepastian dari faktor geopolitik dan pasokan.
“Para pedagang ragu untuk menerka arah sampai ada sinyal lebih jelas dari diplomasi, data persediaan berikutnya, atau konfirmasi apa pun bahwa arus pasokan secara signifikan terpengaruh dan bukan hanya terancam,” tulis analis Gelber & Associates dilansir CNBC.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan pembicaraan nuklir dengan AS memungkinkan Teheran menilai keseriusan Washington dan menunjukkan adanya konsensus untuk melanjutkan jalur diplomatik.
Diplomat kedua negara sebelumnya bertemu melalui mediator di Oman pada pekan lalu untuk menghidupkan kembali proses negosiasi setelah Presiden AS Donald Trump menempatkan armada angkatan laut di kawasan tersebut, yang meningkatkan kekhawatiran konflik militer baru.
Tamas Varga, analis minyak perusahaan pialang PVM, mengatakan pasar masih memantau perkembangan ketegangan geopolitik. “Pasar masih fokus pada ketegangan antara Iran dan AS, kecuali ada tanda-tanda konkret gangguan pasokan, harga minyak kemungkinan mulai turun.” kata Tamas Varga.
Baca Juga
Perkuat Ketahanan Energi, Pertamina Datangkan 1 Juta Barel Minyak dari Aljazair
Sekitar seperlima konsumsi minyak dunia melewati Selat Hormuz yang berada di antara Oman dan Iran, menjadikan wilayah itu jalur penting bagi pasokan energi global. Negara-negara anggota Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC), termasuk Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, Irak, dan Iran, menyalurkan sebagian besar ekspor melalui jalur tersebut terutama ke Asia.
Menurut Badan Informasi Energi AS (EIA), Iran merupakan produsen minyak mentah terbesar ketiga di OPEC setelah Arab Saudi dan Irak pada 2025. Data EIA juga menunjukkan Rusia menjadi produsen minyak terbesar ketiga di dunia setelah AS dan Arab Saudi pada tahun yang sama.
Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa Kaja Kallas menyatakan akan mengusulkan daftar konsesi yang diminta dari Rusia sebagai bagian penyelesaian konflik Ukraina. Upaya ini dinilai bertujuan menekan pendapatan energi Rusia.
Di sisi permintaan, Indian Oil Corp, perusahaan penyulingan terbesar India, membeli sekitar 6 juta barel minyak mentah dari Afrika Barat dan Timur Tengah. Langkah ini diambil karena India menghindari minyak Rusia dalam upaya mencapai kesepakatan perdagangan dengan Washington.
Di Venezuela, EIA memperkirakan perluasan lisensi AS dapat memulihkan produksi minyak negara tersebut pada pertengahan 2026 ke level sebelum blokade angkatan laut AS pada Desember. Venezuela merupakan salah satu negara anggota OPEC di Amerika Selatan.
Ekonomi AS
Dari sisi ekonomi, penjualan ritel AS dilaporkan tidak berubah pada Desember karena rumah tangga mengurangi pengeluaran untuk kendaraan dan barang mahal. Kondisi ini berpotensi memperlambat pertumbuhan konsumsi dan ekonomi memasuki awal tahun.
Baca Juga
Elnusa (ELSA) Andalkan Teknologi dan Efisiensi Hadapi Volatilitas Harga Minyak dan Transisi Energi
Pelaku pasar memantau rilis data ekonomi AS pekan ini, termasuk laporan penggajian non-pertanian Januari pada Rabu (11/2/2026) dan data inflasi pada Jumat (13/2/2026), untuk mencari petunjuk arah suku bunga bank sentral AS Federal Reserve (The Fed).
Bank sentral menggunakan kebijakan suku bunga untuk mengendalikan inflasi. Presiden AS Donald Trump mendorong penurunan suku bunga guna menekan biaya konsumen dan mendorong pertumbuhan ekonomi serta permintaan energi, meski berisiko meningkatkan tekanan inflasi.
Di pasar energi, investor menunggu data mingguan persediaan minyak AS dari American Petroleum Institute (API), asosiasi industri minyak, pada Selasa serta laporan resmi EIA pada Rabu.
Analis memperkirakan stok minyak mentah AS naik sekitar 0,1 juta barel pekan lalu. Angka ini lebih rendah dibanding kenaikan 4,1 juta barel pada periode yang sama tahun lalu dan rata-rata kenaikan 1,4 juta barel dalam lima tahun terakhir periode 2021-2025.

