Hormuz Jadi Senjata Ekonomi Iran
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Ketegangan perang Iran–Israel conflict kembali memanas setelah militer Iran secara terbuka menyatakan bahwa penguasaan Strait of Hormuz dapat menjadi sumber keuntungan ekonomi besar bagi Teheran sekaligus memperkuat posisi geopolitiknya di dunia internasional. Media India, The Hindu, dalam laporan live update yang diperbarui Rabu (13/05/2026) pukul 20.58 IST atau sekitar 22.28 WIB, melaporkan juru bicara militer Iran Mohammad Akraminia mengatakan kontrol Iran atas Selat Hormuz bahkan berpotensi menggandakan pendapatan minyak negara tersebut.
“Pengawasan kami atas Selat Hormuz berpotensi bahkan melipatgandakan pendapatan minyak kami,” ujar Akraminia, Rabu (13/5/2026). Ia menjelaskan, bagian barat Selat Hormuz saat ini dikendalikan angkatan laut Garda Revolusi Iran, sedangkan bagian timur diawasi angkatan laut reguler Iran. Pernyataan tersebut mempertegas bahwa Iran mulai memandang Selat Hormuz bukan sekadar jalur strategis militer, melainkan instrumen ekonomi dan politik global.
Selat Hormuz merupakan salah satu choke point energi paling penting di dunia. Sekitar seperlima perdagangan minyak global melewati jalur sempit tersebut setiap hari. Karena itu, setiap ancaman terhadap stabilitas Hormuz hampir selalu langsung mengguncang pasar energi dunia.
Foto yang dimuat Reuters dalam laporan tersebut memperlihatkan aktivitas pompa minyak di ladang Permian Basin dekat Midland, Amerika Serikat, sebagai simbol bagaimana perang Iran-Israel kini mulai berdampak pada dinamika energi global.
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan bahwa prioritas utama Washington tetap menghentikan program nuklir Iran, meski rakyat Amerika menghadapi tekanan ekonomi akibat perang.
Menurut laporan yang sama, Trump pada Selasa (12/5/2026) menyatakan penderitaan ekonomi warga Amerika bukan faktor utama dalam pengambilan keputusannya terkait konflik Iran. “Pencegahan Iran memperoleh senjata nuklir adalah prioritas tertinggi,” kata Trump.
Sementara itu, Pentagon mengungkapkan biaya perang melawan Iran kini telah mendekati US$29 miliar. Presiden Trump sedang mendapatkan tekanan internal.
Baca Juga
Harapan Damai AS-Iran Memudar, Pasar Eropa dan Obligasi Inggris Bergejolak
Tekanan geopolitik juga meluas ke Lebanon selatan. Israel dilaporkan kembali melancarkan serangan besar-besaran pada Selasa (12/5/2026) menjelang pembicaraan antara Israel dan Lebanon di Washington. Pemerintah Lebanon menyebut sedikitnya 380 orang tewas akibat serangan Israel sejak gencatan senjata 17 April 2026 mulai berlaku.
Pernyataan Iran soal Hormuz muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran negara-negara Teluk terkait potensi penggunaan selat tersebut sebagai alat tekanan politik. Sebelumnya, Qatar memperingatkan Iran agar tidak menggunakan Selat Hormuz sebagai alat “blackmail” terhadap negara-negara kawasan Teluk.
Media internasional lain seperti Reuters, CNBC, dan BBC News juga sebelumnya melaporkan bahwa ketegangan di Hormuz telah memicu lonjakan premi risiko pengiriman minyak, kenaikan tarif asuransi tanker, hingga kekhawatiran gangguan rantai pasok energi global.
Bahkan sejumlah analis energi global memperingatkan, jika Iran benar-benar memperketat kontrol atas Hormuz atau mengganggu lalu lintas tanker, harga minyak dunia berpotensi kembali melonjak di atas US$100 per barel.
Di tengah bayang-bayang perang, laporan The Hindu juga menampilkan sisi kemanusiaan yang kontras dari kota suci Qom di Iran. Di tengah ketegangan, asap serangan, dan demonstrasi anti-perang, relawan India dilaporkan membagikan sharbat dingin gratis kepada warga setiap malam. Bagi sebagian warga Qom, kios kecil itu menjadi simbol bahwa di tengah konflik geopolitik dan ancaman perang besar, solidaritas antar-manusia masih tetap hidup.
Perebutan Kontrol Hormuz
Klaim Iran bahwa penguasaan Strait of Hormuz dapat meningkatkan pendapatan ekonomi negara memunculkan pertanyaan besar di pasar global. Sebab, di saat yang sama, Amerika Serikat justru tengah memberlakukan blokade laut terhadap kapal yang keluar-masuk pelabuhan Iran.
Situasi tersebut memperlihatkan bahwa konflik di kawasan Teluk kini bukan lagi sekadar perang terbuka antara Iran dan Israel, melainkan telah berkembang menjadi perebutan kontrol maritim dan jalur energi global antara Iran dan Amerika Serikat.
Reuters sebelumnya melaporkan bahwa Washington sejak 13 April 2026 mulai menjalankan blokade terhadap kapal yang terkait dengan pelabuhan Iran setelah pembicaraan damai di Islamabad gagal mencapai kesepakatan. Namun blokade tersebut bukan berarti Amerika Serikat sepenuhnya menguasai Selat Hormuz.
Iran tetap memiliki posisi geografis dan kekuatan militer strategis di kawasan tersebut. Teheran bahkan disebut masih menerapkan kontrol selektif terhadap kapal-kapal yang melintas di Hormuz, termasuk menentukan akses pelayaran tertentu.
Reuters dalam analisisnya menyebut situasi itu sebagai “duelling maritime blockades” atau perebutan kontrol laut antara Iran dan AS. Di lapangan, kondisi tersebut membuat lalu lintas pelayaran energi global menjadi sangat tidak pasti. Sejumlah kapal tanker dilaporkan masih bisa melintas dengan persetujuan Iran, sementara sebagian lainnya memilih menunda perjalanan akibat meningkatnya risiko keamanan dan lonjakan premi asuransi.
Media Australia, ABC News Australia, juga melaporkan operasi AS bertajuk “Project Freedom” yang bertujuan membuka jalur pelayaran Hormuz belum sepenuhnya berhasil. Ribuan kapal disebut masih tertahan di kawasan Teluk Persia dan hanya sebagian kecil yang berhasil dikawal melewati selat tersebut.
Kondisi ini menjelaskan mengapa Iran tetap percaya diri menyebut kontrol atas Hormuz dapat memberi manfaat ekonomi dan geopolitik besar bagi Teheran.
Bagi Iran, penguasaan jalur strategis itu bukan hanya soal ekspor minyak, melainkan juga alat tawar politik terhadap dunia internasional. Selat Hormuz tetap menjadi jalur vital energi global yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia setiap harinya. Karena itu, meski AS melakukan tekanan militer dan blokade laut, Iran masih dinilai memiliki leverage besar di kawasan Teluk.
Ketidakpastian tersebut kini menjadi salah satu faktor utama yang terus menopang volatilitas harga minyak dunia dan meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global.

