Harapan Damai AS-Iran Memudar, Pasar Eropa dan Obligasi Inggris Bergejolak
Poin Penting
|
LONDON, investortrust.id – Bursa saham Eropa ditutup melemah pada perdagangan Selasa (12/5/2026) waktu setempat, dipicu meningkatnya ketidakpastian geopolitik terkait konflik Iran serta memburuknya krisis politik di Inggris. Nilai tukar poundsterling dan pasar obligasi Inggris tertekan.
Baca Juga
Iran “Siaga Tempur”, Trump Sebut Gencatan Senjata di Ambang Runtuh
Dikutip dari CNBC, indeks pan-Eropa Stoxx 600 turun hampir 1,1%, dengan mayoritas sektor dan bursa utama berada di zona merah. Investor cenderung mengurangi aset berisiko setelah prospek perdamaian cepat antara Amerika Serikat dan Iran semakin diragukan.
Ketidakpastian meningkat setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa gencatan senjata yang berlangsung selama sebulan dengan Iran kini berada dalam kondisi “on life support” atau sangat rapuh. Pernyataan itu muncul setelah Teheran mengirimkan proposal balasan yang disebut Washington “tidak dapat diterima”.
“Kondisi gencatan senjata saat ini sangat lemah,” ujar Trump kepada wartawan di Oval Office.
Komentar tersebut langsung mendorong kenaikan harga minyak dunia dan memperburuk sentimen pasar global. Bursa Asia-Pasifik bergerak mixed, sementara Wall Street juga terkoreksi setelah data inflasi AS menunjukkan kenaikan di atas ekspektasi.
Baca Juga
Di Inggris, tekanan politik terhadap Perdana Menteri Keir Starmer semakin meningkat setelah lebih dari 70 anggota Partai Buruh menyerukan pengunduran dirinya atau meminta jadwal transisi kepemimpinan. Tekanan muncul menyusul hasil buruk Partai Buruh dalam pemilihan dewan lokal pekan lalu.
Meski demikian, Starmer menegaskan dirinya tidak akan mundur. Dalam rapat kabinet mingguan, ia menyatakan akan tetap fokus menjalankan pemerintahan dan mengingatkan bahwa mekanisme resmi tantangan kepemimpinan partai belum dimulai.
Namun, pidato Starmer yang mengakui adanya “keraguan” dari internal partai gagal meredakan gejolak. Beberapa staf menteri bahkan memilih mengundurkan diri pada Senin lalu.
Ketidakstabilan politik tersebut langsung tercermin di pasar keuangan Inggris. Imbal hasil obligasi pemerintah Inggris tenor 10 tahun atau gilt naik sekitar 10 basis poin menjadi 5,10%. Poundsterling melemah 0,7% terhadap dolar AS dan turun 0,3% terhadap euro.
Di sisi korporasi, perhatian investor juga tertuju pada laporan kinerja perusahaan-perusahaan besar Eropa.
Perusahaan farmasi dan bioteknologi Jerman Bayer melaporkan kenaikan laba operasional kuartal pertama sebesar 9% menjadi 4,5 miliar euro setelah penyesuaian item khusus, melampaui ekspektasi analis. Saham Bayer ditutup melonjak lebih dari 4%.
Bayer juga masih menghadapi risiko hukum terkait produk herbisida Roundup setelah mengakuisisi Monsanto senilai US$63 miliar pada 2018. Perusahaan saat ini menunggu keputusan Mahkamah Agung AS terkait ribuan gugatan yang menuding kandungan glyphosate dalam Roundup menyebabkan kanker.
Bayer menyebut litigasi Roundup tetap menjadi “risiko hukum”, meski Monsanto telah menyepakati proposal penyelesaian gugatan senilai hingga US$7,25 miliar selama 21 tahun.
Di sektor telekomunikasi, Vodafone melaporkan pendapatan tahunan fiskal naik 8% menjadi 40,5 miliar euro, didorong pertumbuhan pendapatan layanan dan konsolidasi jaringan Three di Inggris.
Perusahaan juga berhasil mencatat laba operasional 2,8 miliar euro setelah sebelumnya rugi 0,4 miliar euro. Meski demikian, pendapatan Vodafone sedikit di bawah estimasi pasar sehingga sahamnya anjlok 7,7% pada akhir perdagangan.

