Trump Ancam Tarif Lebih Tinggi ke UE, Bursa Eropa Tertekan
Poin Penting
|
LONDON, investortrust.id – Bursa saham Eropa melemah pada perdagangan Jumat (8/5/2026). Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan ancaman tarif tinggi terhadap Uni Eropa (UE), yang memicu kekhawatiran baru terkait hubungan dagang transatlantik.
Baca Juga
Ekspor Inggris ke AS Anjlok 25% Imbas Kebijakan Tarif Trump, Defisit Perdagangan Melebar
Dikutip dari CNBC, indeks pan-Eropa Stoxx 600 ditutup turun hampir 0,8%, dengan mayoritas sektor bergerak di zona merah. Bursa utama di London, Paris, Frankfurt, dan Milan juga berakhir melemah.
Ketegangan dagang kembali menjadi perhatian pasar setelah Trump melalui platform Truth Social menyatakan dirinya telah “menunggu dengan sabar” agar UE memenuhi bagian mereka dalam kesepakatan dagang historis yang dicapai Juli tahun lalu.
Dalam kesepakatan tersebut, AS dan UE sebelumnya sepakat memangkas ancaman tarif impor terhadap blok Eropa dari 30% menjadi 15%. Namun Trump menuduh UE belum memenuhi janji untuk memangkas tarif barang-barang AS menjadi nol persen.
Trump bahkan mengungkapkan dirinya memberi tenggat waktu hingga perayaan 250 tahun kemerdekaan AS sebelum tarif terhadap Eropa dinaikkan secara signifikan.
Baca Juga
Kejutan Baru untuk Uni Eropa: Trump Naikkan Tarif Mobil Jadi 25%
Pernyataan tersebut kembali memicu kekhawatiran di Brussel. Sebelumnya pada Februari lalu, sejumlah pejabat perdagangan UE menuding Washington telah beberapa kali melanggar kesepakatan dagang yang telah dibuat.
Parlemen Uni Eropa bahkan menunda pemungutan suara terkait perjanjian perdagangan tersebut menyusul ancaman terbaru dari Trump. Salah satu pejabat UE menyebut langkah Trump sebagai “kekacauan tarif murni”.
Di sektor korporasi, saham bank Jerman Commerzbank turun 3,9% meski perusahaan melaporkan laba operasional kuartal pertama sebesar 1,36 miliar euro atau sekitar US$1,6 miliar.
CEO Commerzbank, Bettina Orlopp, mengatakan pihaknya akan terus mempertahankan kepentingan pemegang saham di tengah upaya akuisisi oleh bank Italia UniCredit. Saham UniCredit sendiri turun lebih dari 1%.
Sektor pertahanan Eropa juga mengalami tekanan tajam seiring investor mencermati perkembangan konflik Timur Tengah. Trump mengatakan serangan terbaru di kawasan itu hanya merupakan “love tap” dan menegaskan gencatan senjata masih berlaku.
Baca Juga
Gencatan Senjata AS-Iran Kembali Terancam, Selat Hormuz Memanas, AS-Iran Saling Tembak
Saham produsen persenjataan Jerman Rheinmetall menjadi saham dengan kinerja terburuk di Stoxx 600 setelah anjlok 9,2%. Produsen komponen tank Renk turun 6,4%, sementara perusahaan pertahanan Italia Leonardo melemah 3,2%.
Sementara itu di Inggris, perhatian investor juga tertuju pada penghitungan suara pemilu dewan lokal di Inggris serta parlemen nasional di Skotlandia dan Wales.
Hasil awal menunjukkan kerugian besar bagi Partai Buruh pimpinan Perdana Menteri Keir Starmer maupun oposisi utama Partai Konservatif. Partai sayap kanan Reform UK dan Partai Hijau diperkirakan mencatat kenaikan suara signifikan.
Tekanan politik tersebut dipandang dapat memperlemah posisi Starmer yang sejak awal pemerintahannya menghadapi tantangan berat. Namun Starmer menegaskan dirinya tidak akan mundur dan tak akan “membiarkan negara jatuh ke dalam kekacauan.”
Di pasar obligasi, imbal hasil obligasi pemerintah Inggris tenor 10 tahun atau gilt relatif stabil di level 4,917%, sementara poundsterling menguat sekitar 0,5% terhadap dolar AS ke level US$1,36.

