The Fed Tahan Suku Bunga di Tengah Perpecahan Internal dan Tekanan Inflasi Akibat Perang Iran
Poin Penting
|
WASHINGTON, investortrust.id – Bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), kembali menahan suku bunga acuannya di kisaran 3,5%–3,75%. Keputusan ini sebenarnya telah diantisipasi pasar. Namun, yang mengejutkan adalah tingkat perpecahan di internal bank sentral.
Baca Juga
‘Wait and See’, The Fed Diperkirakan Tahan Suku Bunga hingga Akhir Tahun
The Fed, dalam rilisnya menyebutkan, indikator terbaru menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi AS telah berkembang dengan laju yang solid. Pertumbuhan lapangan kerja, secara rata-rata, tetap rendah, dan tingkat pengangguran relatif tidak banyak berubah dalam beberapa bulan terakhir. Inflasi masih tinggi, sebagian mencerminkan kenaikan harga energi global baru-baru ini.
Dalam rapat Federal Open Market Committee (FOMC) 28-29 April, keputusan untuk menahan suku bunga diambil dengan voting 8 banding 4. Ini menandai momen langka, mengingat selama masa kepemimpinan Jerome Powell, konsensus biasanya terjaga kuat.
Yang memberikan suara mendukung keputusan kebijakan moneter ini adalah Jerome H. Powell, Ketua; John C. Williams, Wakil Ketua; Michael S. Barr; Michelle W. Bowman; Lisa D. Cook; Philip N. Jefferson; Anna Paulson; dan Christopher J. Waller.
Yang menolak keputusan ini adalah Stephen I. Miran, yang lebih memilih menurunkan kisaran target suku bunga federal funds sebesar 25 basis poin (bps) dalam rapat ini; serta Beth M. Hammack, Neel Kashkari, dan Lorie K. Logan, yang mendukung mempertahankan kisaran target suku bunga federal funds namun tidak mendukung pencantuman bias pelonggaran dalam pernyataan pada saat ini.
Dalam sejarahnya, terakhir kali empat anggota FOMC berbeda pendapat pada Oktober 1992.
Perbedaan pandangan muncul bukan hanya soal arah kebijakan, tetapi juga terkait komunikasi ke depan. Sejumlah pejabat menolak frasa dalam pernyataan resmi yang mengisyaratkan peluang penurunan suku bunga lanjutan. Bagi mereka, sinyal pelonggaran dini dinilai berisiko di tengah inflasi yang masih bertahan di atas 3% sejak akhir 2023.
Secara terpisah, selama konferensi pers setelah keputusan bank sentral, Powell memberi sinyal bahwa ia akan tetap berada di Dewan Gubernur untuk jangka waktu yang tidak terbatas. Ia mengatakan bahwa ia menunggu hingga penyelidikan terhadap renovasi Federal Reserve "benar-benar selesai dengan transparansi dan kepastian."
“Dalam masa jabatan yang umumnya ditandai dengan pembangunan konsensus dan sedikit perbedaan pendapat, Ketua Powell mengakhiri masa jabatannya dengan 4 perbedaan pendapat,” tulis Brent Schutte, kepala petugas investasi di Northwestern Mutual, dalam sebuah email, dikutip dari CNBC, Kamis (30/4/2026).
“Ini tidak hanya menyoroti potensi hal yang sama di bulan-bulan mendatang ketika Ketua baru yang fokus pada perubahan Fed mengambil alih, tetapi juga kenyataan bahwa prospek ekonomi jangka pendek tetap sangat tidak pasti mengingat sinyal pasar tenaga kerja dan pertumbuhan ekonomi yang saling bertentangan dengan latar belakang inflasi yang telah stagnan di angka 3% lebih sejak akhir tahun 2023,” urainya.
Dilema The Fed
Di sisi lain, ada pula kubu yang justru mendorong penurunan suku bunga lebih cepat. Gubernur Stephen Miran kembali menyuarakan perlunya pemangkasan sebesar 25 basis poin, mencerminkan kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi.
Baca Juga
Perpecahan ini mencerminkan dilema klasik The Fed: menjaga inflasi tetap terkendali tanpa mengorbankan pertumbuhan dan pasar tenaga kerja. Data terbaru menunjukkan kondisi ekonomi yang beragam—di satu sisi, inflasi masih tinggi, terutama dipicu kenaikan harga energi global; di sisi lain, pasar tenaga kerja tetap solid dengan penambahan lapangan kerja yang cukup kuat.
Situasi ini diperumit oleh faktor eksternal, termasuk kebijakan tarif dan lonjakan harga energi, yang membuat tekanan inflasi lebih persisten dari perkiraan sebelumnya. Dalam kondisi normal, bank sentral cenderung mengabaikan shock harga sementara, namun durasi tekanan saat ini memunculkan kekhawatiran dampak jangka panjang terhadap konsumen.
Ketidakpastian juga datang dari sisi kepemimpinan. Nominasi Kevin Warsh sebagai ketua baru The Fed telah mendapat lampu hijau awal dari Senat. Jika disahkan, ini akan menjadi pergantian kepemimpinan pertama sejak Powell menjabat pada 2018.
Menariknya, Powell memberi sinyal tidak akan langsung hengkang. Ia menyatakan akan tetap berada di Dewan Gubernur hingga investigasi terkait renovasi kantor pusat The Fed rampung. Langkah ini berpotensi mempertahankan pengaruhnya dalam kebijakan moneter, sekaligus membatasi ruang bagi Presiden Donald Trump untuk menunjuk anggota baru.
Pasar keuangan merespons dengan hati-hati. Saham bergerak melemah, sementara investor menyesuaikan ekspektasi bahwa suku bunga kemungkinan akan bertahan lebih lama dari perkiraan awal. Proyeksi The Fed sendiri mengindikasikan hanya satu kali pemangkasan tahun ini, dengan penurunan tambahan baru terjadi pada 2027.
Di tengah sinyal ekonomi yang saling bertolak belakang, satu hal menjadi jelas: arah kebijakan moneter AS kini tidak lagi ditentukan oleh konsensus kuat, melainkan oleh tarik-menarik pandangan yang semakin terbuka di dalam tubuh bank sentral.

