AS dan Iran Akan Berunding Lagi untuk Membuka Blokade Hormuz
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Blokade Selat Hormuz yang dilakukan AS terhadap kapal yang menuju pelabuhan Iran dan berangkat dari pelabuhan Iran segera berakhir akibat tekanan dunia, termasuk China dan India yang sangat tergantung pada minyak mentah Iran. Negosiasi AS-Iran akan segera dilanjutkan pekan depan guna mengakhiri ketidakpastian lalu-lintas kapal pengangkut energi di Selat Hormuz.
Perkembangan terbaru perang Iran memasuki hari ke-48 dengan dinamika yang semakin kompleks, mencakup blokade Selat Hormuz, tekanan ekonomi melalui sanksi baru, hingga peluang pembicaraan damai lanjutan antara Amerika Serikat dan Iran. Laporan langsung Sky News yang dipublikasikan Kamis, (16/04/2026), pukul 07.00 waktu Inggris atau pukul 13.00 WIB menyoroti bahwa kedua negara berpeluang kembali ke meja perundingan pekan depan, di tengah ketidakpastian durasi blokade strategis tersebut.
Menurut laporan tersebut, pemerintah AS menyatakan optimisme terhadap kemungkinan tercapainya kesepakatan baru dengan Iran, meskipun belum ada keputusan terkait perpanjangan gencatan senjata dua pekan yang akan berakhir dalam waktu dekat. Perundingan lanjutan disebut-sebut akan kembali berlangsung di Islamabad, Pakistan, melanjutkan diplomasi tingkat tinggi yang sebelumnya difasilitasi negara tersebut. Pada saat yang sama, kepala militer Pakistan juga melanjutkan komunikasi dengan Menteri Luar Negeri Iran untuk menyampaikan pesan-pesan antara kedua pihak.
Presiden AS Donald Trump bahkan mengklaim bahwa langkah militernya di Selat Hormuz bertujuan “membuka jalur pelayaran bagi China dan dunia”. Ia menyebut Presiden China Xi Jinping akan “memberinya pelukan besar” jika jalur tersebut berhasil dibuka kembali. Namun, klaim tersebut berbanding terbalik dengan temuan tim analisis data Sky News yang mendapati kapal berbendera China justru berbalik arah akibat dampak blokade AS terhadap pelabuhan Iran.
Selain tekanan militer, Washington juga meningkatkan tekanan ekonomi dengan menjatuhkan sanksi baru terhadap sektor minyak Iran. Departemen Keuangan AS menargetkan jaringan perdagangan minyak yang terkait dengan Mohammad Hossein Shamkhani, seorang tokoh penting dalam distribusi minyak Iran. Kebijakan ini memperkuat strategi “maximum pressure” AS, terlebih dengan akan berakhirnya masa pengecualian (waiver) sanksi selama 30 hari pada 19 April 2026.
China Desak Iran
Pemerintah China mendesak Iran untuk segera membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz guna menjamin stabilitas perdagangan global di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan.
Baca Juga
Perang Iran Mulai Menekan Ekonomi AS, Inflasi Energi Naik, Pertumbuhan Melambat
Dalam laporan yang dipublikasikan BBC pada Kamis (16/04/2026) pukul 11.50 waktu setempat, Menteri Luar Negeri China Wang Yi menyampaikan langsung seruan tersebut kepada Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. Beijing menilai, pemulihan navigasi normal di salah satu jalur energi paling strategis dunia itu menjadi kepentingan bersama komunitas internasional.
Wang menegaskan bahwa kedaulatan dan keamanan Iran di Selat Hormuz tetap harus dihormati dan dijaga. Namun di sisi lain, kebebasan dan keselamatan pelayaran internasional juga harus dijamin. “Ada kepentingan bersama untuk membuka kembali selat tersebut,” ujar Wang, sebagaimana dikutip dalam laporan tersebut.
Lebih lanjut, China juga menyatakan dukungannya terhadap upaya mempertahankan gencatan senjata serta mendorong dilanjutkannya kembali perundingan antara pihak-pihak yang bertikai. Sikap ini mencerminkan kepentingan strategis Beijing dalam menjaga kelancaran pasokan energi global, mengingat Selat Hormuz merupakan jalur utama distribusi minyak dunia.
Sejalan dengan itu, sejumlah laporan media internasional seperti Reuters dan Al Jazeera dalam beberapa hari terakhir juga menyoroti meningkatnya kekhawatiran global terhadap gangguan pelayaran di Selat Hormuz akibat blokade dan ancaman militer di kawasan. Gangguan tersebut dinilai berpotensi menekan pasokan energi dan memicu volatilitas harga minyak dunia.
Dengan posisi sebagai salah satu importir energi terbesar dunia, China berkepentingan langsung terhadap stabilitas jalur pelayaran ini. Dorongan Beijing kepada Teheran sekaligus mencerminkan upaya menjaga keseimbangan antara penghormatan terhadap kedaulatan negara dan kepentingan perdagangan global yang lebih luas.
Lebanon
Sementara itu, eskalasi konflik di kawasan turut melibatkan front lain. Trump mengklaim bahwa pembicaraan antara Israel dan Lebanon akan berlangsung pada Kamis (16/4), meski pihak Lebanon membantah adanya agenda tersebut, sebagaimana dikutip BBC. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga dilaporkan tengah mempertimbangkan opsi gencatan senjata dengan Lebanon, namun di saat bersamaan operasi militer terhadap kelompok Hizbullah—yang didukung Iran— masih terus berlangsung di wilayah selatan Lebanon.
Situasi kemanusiaan di Lebanon pun memburuk drastis. Kepala badan pengungsi PBB menyerukan bantuan mendesak setelah lebih dari satu juta orang—sekitar seperlima populasi Lebanon—mengungsi akibat konflik. Data Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat lebih dari 2.100 korban jiwa sejak 2 Maret 2026 akibat serangan Israel, sebagaimana dilaporkan AFP dan dikutip BBC.
Baca Juga
Ekonominya Terdampak Parah, Inggris Kritik Keras Kebijakan Trump dalam Perang Iran
Laporan BBC juga menegaskan bahwa ancaman Iran terhadap jalur pelayaran global semakin serius. Militer Iran sebelumnya memperingatkan akan memperluas gangguan terhadap lalu lintas kapal tidak hanya di Selat Hormuz, tetapi juga di Laut Merah dan Teluk Oman jika blokade AS terus berlanjut. Analisis keamanan menunjukkan bahwa potensi gangguan ini dapat berdampak besar terhadap perdagangan global, mengingat sekitar 20% pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz.
Informasi senada juga dilaporkan oleh The New York Times (15 April 2026), yang menyebut bahwa Iran mengancam akan memperluas pengaruhnya atas jalur pelayaran regional sebagai respons terhadap blokade laut oleh AS. Bahkan, militer AS mengklaim telah “sepenuhnya menghentikan” perdagangan laut Iran dalam 48 jam pertama operasi, menunjukkan skala tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Sementara itu, CNBC (14–15 April 2026) menyoroti bahwa ketegangan di Selat Hormuz tidak hanya berdampak pada Iran, tetapi juga menyeret kepentingan ekonomi negara besar seperti China dan India. Blokade tersebut meningkatkan risiko gangguan pasokan energi global dan berpotensi memicu lonjakan harga minyak, yang pada akhirnya dapat mengguncang pertumbuhan ekonomi global.
Dengan berbagai tekanan militer, ekonomi, dan diplomasi yang terjadi secara simultan, masa depan konflik Iran-AS kini berada di titik krusial. Jika gencatan senjata dapat diperpanjang dan perundingan berhasil dilanjutkan, stabilitas kawasan mungkin dapat dipulihkan secara bertahap. Namun, jika negosiasi gagal dan konflik kembali memanas, dampaknya tidak hanya regional, tetapi berpotensi mengguncang ekonomi global secara luas.

