Ekonominya Terdampak Parah, Inggris Kritik Keras Kebijakan Trump dalam Perang Iran
Poin Penting
|
WASHINGTON DC, investortrust.id - Menteri Keuangan Inggris Rachel Reeves melontarkan kritik tajam terhadap pemerintahan Presiden Donald Trump. Ia menyerukan deeskalasi segera dalam konflik Timur Tengah yang dinilai mulai mengguncang stabilitas ekonomi global.
Baca Juga
Pelabuhannya Diblokir AS, Iran Ancam Perluas Serangan ke Jalur Laut Global
Berbicara di forum Invest in America di Washington, Reeves memperingatkan bahwa penutupan Selat Hormuz telah meningkatkan risiko besar terhadap perekonomian dunia, mengingat jalur tersebut merupakan arteri utama distribusi energi global.
Ia menilai arah kebijakan Washington dalam perang Iran tidak konsisten. Menurutnya, tujuan konflik tampak berubah-ubah—mulai dari perubahan rezim, perlindungan sekutu regional, hingga penghentian program nuklir Teheran.
“Saya tidak yakin konflik ini membuat dunia menjadi lebih aman. Selama enam minggu terakhir, tidak jelas apa tujuan sebenarnya,” ujar Reeves, dikutip dari CNBC, Kamis (16/4/2026).
Meski menegaskan hubungan Inggris-AS tetap kuat, Reeves menekankan bahwa London tidak harus selalu sejalan dengan Washington dalam setiap kebijakan.
Ia juga menggarisbawahi dampak jangka panjang dari konflik terhadap infrastruktur energi di Timur Tengah. Kerusakan pada fasilitas minyak dan gas disebut akan meninggalkan efek berkepanjangan, bahkan jika perang berakhir dalam waktu dekat.
Sementara itu, International Monetary Fund memperingatkan bahwa Inggris—sebagai negara pengimpor gas—akan menjadi salah satu ekonomi maju yang paling terdampak dari konflik ini.
Baca Juga
IMF : Perang Iran Pukul Ekonomi G7, Inggris Terdampak Paling Parah
Namun Reeves tetap optimistis Inggris bisa melampaui proyeksi tersebut, dengan catatan konflik segera mereda. Ia menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi akan lebih tinggi dan inflasi lebih terkendali jika ketegangan mereda dan jalur perdagangan energi kembali dibuka.
“Langkah kebijakan ekonomi terbaik, tidak hanya untuk Inggris tetapi global, adalah deeskalasi dan pembukaan kembali Selat Hormuz,” tegasnya.

