AS Klaim Blokade Total Pelabuhan Iran, Lalu Lintas Hormuz Masih Dipertanyakan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Militer Amerika Serikat (AS) mengklaim telah berhasil memblokade seluruh aktivitas perdagangan komersial menuju dan dari pelabuhan Iran, kurang dari 36 jam setelah operasi blokade laut diberlakukan di Selat Hormuz. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Komando Pusat AS (US Central Command) pada Rabu (15/04/2026) pagi waktu Iran, sebagaimana dilaporkan The New York Times dalam laporan langsung yang diperbarui pukul 06.48 waktu New York atau sekitar 17.48 WIB.
Blokade ini merupakan tindak lanjut dari perintah Presiden Donald Trump setelah perundingan damai antara AS dan Iran di Islamabad, Pakistan, pada akhir pekan lalu berakhir tanpa kesepakatan. Trump memerintahkan Angkatan Laut AS untuk menghentikan seluruh kapal yang menuju pelabuhan Iran melalui Selat Hormuz, jalur vital bagi distribusi minyak dan gas global.
Baca Juga
Namun demikian, efektivitas blokade tersebut masih menimbulkan tanda tanya. Data pelacak kapal menunjukkan bahwa sejumlah kapal yang terafiliasi dengan Iran masih sempat melintasi selat tersebut setelah operasi dimulai pada Senin. Hingga Rabu pagi, belum ada konfirmasi independen yang memastikan apakah lalu lintas kapal Iran benar-benar telah berhenti sepenuhnya.
Dalam operasinya, militer AS mengerahkan lebih dari 10.000 personel, didukung lebih dari selusin kapal perang dan puluhan pesawat tempur. Meski demikian, Washington menegaskan bahwa jalur pelayaran tetap dibuka bagi kapal-kapal yang tidak menuju pelabuhan Iran, guna menjaga prinsip kebebasan navigasi internasional.
Di sisi lain, Iran justru telah lebih dahulu memperketat akses Selat Hormuz sejak konflik memanas pada akhir Februari 2026, sebagai bentuk balasan atas serangan AS dan Israel. Hingga kini, belum terlihat tanda-tanda bahwa Teheran akan membuka kembali jalur tersebut secara penuh, meskipun tekanan diplomatik terus meningkat.
Presiden Trump sendiri menyatakan optimisme bahwa konflik mendekati akhir. Dalam wawancara dengan The New York Post dan Fox News, ia menyebut pembicaraan baru dengan Iran kemungkinan akan berlangsung dalam dua hari ke depan di Pakistan.
“Saya pikir ini sudah sangat dekat dengan akhir,” ujarnya dalam kutipan yang akan disiarkan di Fox Business pada Rabu (15/4/2026).
Namun, sejumlah isu krusial masih menjadi ganjalan utama dalam negosiasi, antara lain status Selat Hormuz, program nuklir Iran, serta konflik yang melibatkan Israel dan kelompok Hizbullah di Lebanon. Ketegangan di Lebanon bahkan berpotensi menggagalkan gencatan senjata rapuh antara AS dan Iran.
Perkembangan di lapangan menunjukkan eskalasi belum mereda. Sehari setelah pembicaraan diplomatik antara Israel dan Lebanon di Washington, serangan militer Israel dilaporkan kembali menggempur wilayah selatan Lebanon pada Rabu (15/4/2026). Kantor berita resmi Lebanon melaporkan adanya korban jiwa dalam serangan di kota pesisir Ansariya.
Baca Juga
Trump: Perang Iran “Hampir Berakhir”, Blokade Hormuz AS Masuk Hari Kedua
Dari sisi ekonomi global, International Monetary Fund (IMF) memperingatkan bahwa gangguan terhadap pasar minyak akibat konflik ini berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi dunia, memicu inflasi, dan meningkatkan risiko resesi global. IMF menilai bahkan jika konflik berlangsung singkat, dampak terhadap ekonomi global sudah terlanjur signifikan.
Sejumlah media internasional juga melaporkan perkembangan serupa. Al Jazeera dan CNBC dalam laporan terpisah menyebutkan bahwa ketegangan di Selat Hormuz terus mengganggu lalu lintas energi global, sementara ketidakpastian keamanan membuat pelaku pasar dan operator kapal semakin berhati-hati.
Data korban jiwa juga terus bertambah. Hingga Rabu (15/4/2026), lembaga pemantau HAM melaporkan sedikitnya 1.701 warga sipil tewas di Iran, termasuk 254 anak-anak. Di Lebanon, korban mencapai lebih dari 2.100 orang akibat konflik Israel-Hizbullah. Sementara itu, korban di Israel tercatat sedikitnya 22 orang, dan 13 personel militer AS juga dilaporkan tewas dalam konflik ini.
Dengan situasi yang masih sangat dinamis, klaim keberhasilan blokade oleh AS belum sepenuhnya mencerminkan kondisi di lapangan. Selat Hormuz tetap menjadi titik krusial yang tidak hanya menentukan arah konflik geopolitik, tetapi juga stabilitas ekonomi global.

