Trump Blokade Hormuz, China dan India Tertekan
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Blokade militer Amerika Serikat (AS) di Selat Hormuz tidak hanya menekan Iran, tetapi juga mulai mengguncang hubungan Washington dengan dua kekuatan ekonomi Asia, yakni China dan India. Laporan CNBC yang dipublikasikan pada Selasa (14/04/2026) waktu AS dan diperbarui Rabu (15/04/2026) menyebutkan, kebijakan "maximum pressure” Washington terhadap Iran berpotensi merusak keseimbangan hubungan dengan Beijing dan New Delhi, sekaligus memperluas dampak geopolitik konflik.
Tekanan terbesar terlihat pada hubungan AS dengan China. Sekitar 98% ekspor minyak Iran mengalir ke China, menjadikan Beijing pihak yang paling terdampak langsung dari blokade tersebut. Situasi ini menjadi semakin sensitif karena Presiden AS Donald Trump dijadwalkan bertemu dengan Presiden China Xi Jinping dalam beberapa pekan mendatang.
Baca Juga
Trump: Perang Iran “Hampir Berakhir”, Blokade Hormuz AS Masuk Hari Kedua
Namun, sinyal ketegangan sudah mulai muncul. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun menyebut blokade AS sebagai langkah “berbahaya dan tidak bertanggung jawab” yang hanya akan memperburuk ketegangan global.
Ketegangan meningkat setelah Washington mengancam akan mengenakan tarif hingga 50% terhadap China jika Beijing terbukti memasok senjata ke Iran. China langsung menolak tuduhan tersebut dan menyebutnya sebagai “fitnah tanpa dasar”. Menurut Wendy Cutler dari Asia Society Policy Institute, blokade Hormuz berpotensi menggagalkan upaya AS menjaga stabilitas hubungan dengan China menjelang pertemuan tingkat tinggi.
Sementara itu, India menghadapi tekanan yang berbeda, yakni risiko langsung terhadap ketahanan energi. Sebagai importir minyak terbesar ketiga di dunia, India sangat bergantung pada pasokan energi dari Timur Tengah. Bahkan, arus impor energi bersih India setara sekitar 3,5% dari Produk Domestik Bruto (PDB), menjadikannya salah satu ekonomi paling rentan terhadap gangguan pasokan global.
India sempat kembali mengimpor minyak Iran setelah jeda tujuh tahun, memanfaatkan pengecualian sementara dari AS. Namun, analis memperkirakan India akan kembali menghentikan impor tersebut jika tekanan Washington meningkat.
Perdana Menteri Narendra Modi dalam percakapan telepon dengan Trump pada Selasa (15/4/2026) menegaskan dukungan India terhadap de-eskalasi konflik dan pemulihan stabilitas kawasan. Namun, menurut analis Teneo, Arpit Chaturvedi, India tidak memiliki cukup ruang untuk menentang kebijakan AS tanpa merusak hubungan strategisnya dengan Washington.
China Lebih Tahan, India Rentan
Meski sama-sama terdampak, kemampuan China dan India dalam menghadapi guncangan energi sangat berbeda. China relatif lebih tahan karena memiliki cadangan minyak strategis besar dan sumber energi yang lebih terdiversifikasi. Data dari perusahaan intelijen maritim Windward menunjukkan sekitar 157,7 juta barel minyak Iran masih berada di laut, dengan hampir seluruhnya menuju China.
Cadangan tersebut, ditambah stok domestik, mampu menopang kebutuhan energi China hingga lebih dari 120 hari.
Sebaliknya, India berada dalam posisi lebih rentan. Cadangan minyaknya hanya cukup untuk kurang dari 60 hari, sementara untuk gas LPG—yang menjadi bahan bakar utama rumah tangga—stoknya bahkan hanya cukup untuk dua hingga tiga minggu jika impor terganggu.
Baca Juga
Blokade Hormuz Masuk Hari Kedua, Trump Isyaratkan Perundingan Baru
Menurut Economist Intelligence Unit, ketergantungan tinggi terhadap impor dari Timur Tengah membuat India sangat sensitif terhadap setiap gangguan di Selat Hormuz.
Salah Perhitungan di Laut
Selain tekanan ekonomi, risiko konflik langsung juga meningkat. Para analis memperingatkan bahwa salah perhitungan di laut —misalnya jika kapal China dicegat oleh militer AS— dapat dengan cepat memicu krisis besar yang melibatkan kekuatan global.
David Meale dari Eurasia Group menilai, insiden semacam itu akan mendorong China untuk bersikap lebih tegas terhadap AS, sehingga mengubah dinamika hubungan bilateral secara signifikan. Fakta bahwa kapal tanker terkait China tetap melintasi Selat Hormuz setelah blokade diberlakukan menunjukkan bahwa situasi di lapangan masih jauh dari terkendali.
Perkembangan ini sejalan dengan laporan sebelumnya dari Al Jazeera dan Sky News pada 15 April 2026 yang menyoroti bahwa blokade Hormuz tidak hanya berdampak pada Iran, tetapi juga mengancam stabilitas energi global. Bahkan International Monetary Fund telah memperingatkan bahwa eskalasi konflik di kawasan ini berpotensi mendorong dunia ke jurang resesi, terutama jika gangguan terhadap pasokan energi terus berlanjut.
Dengan posisi Selat Hormuz sebagai jalur vital bagi sekitar sepertiga perdagangan minyak dunia, setiap gangguan di kawasan ini tidak lagi bersifat regional, melainkan global. Blokade yang awalnya ditujukan untuk menekan Iran kini telah berkembang menjadi sumber tekanan baru bagi hubungan AS dengan China dan India—dua pilar utama ekonomi dunia. Jika tidak segera diredam melalui jalur diplomasi, konflik ini berpotensi meluas dari Timur Tengah ke panggung geopolitik global yang lebih besar.

