Tiga Tanker Terkait Iran Ditengarai Tembus Selat Hormuz di Tengah Blokade AS
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Tiga kapal tanker yang terkait dengan Iran ditengarai berhasil melintasi Selat Hormuz, Selasa (14/04/2026), meskipun Amerika Serikat (AS) telah resmi memberlakukan blokade terhadap pelabuhan dan kapal-kapal Iran. Peristiwa ini menandai eskalasi baru dalam konflik kawasan yang berpotensi mengguncang stabilitas energi global.
Laporan live update Al Jazeera yang dipublikasikan Selasa (14/04/ 2026), menyebutkan, blokade Amerika Serikat mulai efektif setelah perundingan damai antara Washington dan Teheran di Islamabad gagal mencapai kesepakatan. Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa pihaknya akan mencegah kapal-kapal yang keluar-masuk pelabuhan Iran, meski tetap mengklaim tidak mengganggu kebebasan navigasi internasional.
Baca Juga
AS Mulai Blokade Pelabuhan Iran di Hormuz, Paus Leo Kritik Keras Retorika Perang Trump
Namun di lapangan, dinamika berbeda terjadi. Mengutip laporan Reuters yang juga terbit pada 14 April 2026, setidaknya tiga kapal tanker yang memiliki keterkaitan dengan Iran tetap berhasil melewati selat strategis tersebut. Data intelijen maritim yang dikutip menunjukkan adanya aktivitas kapal yang disebut sebagai “potential blockade breakers”, menandakan bahwa implementasi blokade belum sepenuhnya efektif.
Situasi ini memperlihatkan kompleksitas Selat Hormuz sebagai jalur vital energi dunia. Sekitar 20% pasokan minyak global biasanya melewati perairan sempit ini, sehingga setiap gangguan langsung berdampak pada harga energi internasional. Media Jerman, Deutsche Welle, dalam laporannya pada 14 April 2026, menegaskan bahwa blokade AS terhadap Iran berisiko memperburuk ketegangan dan mengancam gencatan senjata rapuh yang baru berjalan dua pekan.
Di sisi lain, Iran mengecam langkah Washington sebagai tindakan “pembajakan” dan pelanggaran kedaulatan. Ribuan warga turun ke jalan di Teheran untuk memprotes blokade tersebut. Pemerintah Iran juga menuding bahwa eskalasi ini merupakan konsekuensi langsung dari serangan militer AS dan Israel yang dimulai sejak 28 Februari 2026.
Respons internasional pun mulai terbelah. Pemerintah China, sebagai pembeli terbesar minyak Iran, secara terbuka menyebut blokade tersebut “berbahaya dan tidak bertanggung jawab”. Dalam konferensi pers pada 14 April 2026, Kementerian Luar Negeri China memperingatkan bahwa langkah itu hanya akan memperuncing konflik dan merusak upaya diplomasi. Pernyataan serupa disampaikan Menteri Luar Negeri Wang Yi sehari sebelumnya, yang menegaskan bahwa penutupan Selat Hormuz tidak sejalan dengan kepentingan komunitas global.
Sementara itu, laporan The Guardian dalam live coverage pada hari yang sama menyebutkan bahwa sejumlah negara Eropa, termasuk Prancis dan Inggris, tengah mengupayakan forum internasional untuk membuka kembali jalur pelayaran Hormuz. Upaya ini menunjukkan kekhawatiran luas terhadap potensi gangguan rantai pasok energi global.
Baca Juga
Di tengah tekanan militer, jalur diplomasi masih terbuka. Presiden Trump mengklaim bahwa pejabat Iran telah menghubungi Washington dan menyatakan keinginan untuk mencapai kesepakatan baru. Pakistan juga disebut siap kembali menjadi tuan rumah perundingan lanjutan di Islamabad.
Namun, perkembangan di lapangan menunjukkan bahwa konflik belum mereda. Kelompok Hizbullah melalui Sekretaris Jenderalnya, Naim Qassem, bahkan menolak rencana pembicaraan antara Lebanon dan Israel di Washington, menandakan bahwa ketegangan regional tetap tinggi.
Dengan kapal-kapal yang masih mampu menembus blokade dan kekuatan global yang saling berhadapan, Selat Hormuz kini bukan sekadar jalur energi, melainkan titik uji bagi keseimbangan geopolitik dunia.

