Minyak Brent Tembus US$ 105 Akibat Blokade Selat Hormuz dan Ketegangan di Timur Tengah
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Pasar energi internasional berada dalam kondisi waspada tinggi setelah harga minyak mentah Brent melonjak melampaui angka 105 dolar per barel pada perdagangan hari Kamis (23/4/2026). Kenaikan lebih dari 3 persen ini dipicu oleh eskalasi ketegangan di Selat Hormuz. Amerika Serikat dan Iran menerapkan blokade atas jalur laut yang sangat krusial bagi pasokan energi dunia itu.
Baca Juga
Dikutip dari CNBC, harga minyak mentah dunia Brent ditutup di level $105,07 per barel. Sedangkan harga minyak WTI (West Texas Intermediate) berada di level $95.85 per barel atau naik sekitar 3 persen.
Kondisi di lapangan Hormuz semakin rumit dengan adanya klaim sepihak mengenai otoritas jalur pelayaran. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bahwa negaranya memegang kendali penuh atas jalur laut tersebut dan setiap kapal yang melintas wajib mendapatkan izin dari Angkatan Laut Amerika Serikat. Sementara itu, pihak Iran tetap pada pendiriannya untuk menuntut setiap kapal kargo meminta izin kepada otoritas mereka. Akibat dari perselisihan ini, lalu lintas tanker di selat tersebut dilaporkan berada pada titik yang sangat rendah karena adanya kekhawatiran akan penyitaan kapal oleh kedua belah pihak.
Situasi ini memicu peringatan keras dari Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional (IEA), Fatih Birol. Ia menyampaikan keresahannya mengenai masa depan keamanan energi global saat berbicara dalam sebuah forum di Singapura. Birol memperingatkan bahwa dunia sedang menghadapi ancaman keamanan energi terbesar dalam sejarah.
Pasokan bahan bakar jet di Eropa terancam sebagai konsekuensi langsung dari konflik Iran. Hal ini memaksa banyak negara untuk meninjau kembali rute perdagangan dan mitra energi mereka.
Baca Juga
Ketidakpastian semakin diperparah oleh dinamika politik internal di Iran serta ancaman militer dari Israel. Laporan mengenai pengunduran diri negosiator utama Iran akibat intervensi Garda Revolusi menimbulkan kekhawatiran bahwa Teheran akan mengambil langkah yang lebih keras dalam diplomasi internasional.
Di sisi lain, Menteri Pertahanan Israel mengisyaratkan bahwa pihaknya hanya menunggu persetujuan dari Amerika Serikat untuk melanjutkan operasi militer. Kombinasi antara blokade fisik di laut dan ketegangan politik ini menciptakan sentimen negatif yang mendorong harga minyak dunia terus merangkak naik.

