AS Pantau Selat Hormuz Pasca Penahanan Tanker asal Arab Saudi oleh Iran
Poin Penting
|
TEHERAN, Investortrust.id - Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) pada Sabtu mengonfirmasi bahwa mereka telah menahan sebuah kapal tanker berbendera Kepulauan Marshall yang membawa bahan bakar dari Uni Emirat Arab menuju Singapura. Dalam pernyataannya, Angkatan Laut IRGC menjelaskan bahwa kapal bernama Talara tersebut mengangkut 30.000 ton petrokimia dan telah dipantau sejak pengadilan Iran mengeluarkan perintah penyitaannya pada Jumat pagi. Pernyataan itu disampaikan melalui kantor berita resmi Iran, IRNA. yang dikutip UPI.com, Minggu (16/11/2025).
Muatan yang dianggap “tidak sah” berupa high-sulphur gas oil — jenis bahan bakar berkadar sulfur tinggi yang digunakan untuk kapal dan berbagai jenis armada laut — menyebabkan tiga kapal kecil milik IRGC melakukan pencegatan terhadap Talara saat kapal itu berlayar ke arah selatan melalui Selat Hormuz.
Laporan Al Jazeera dan BBC menyebutkan bahwa operasi dilakukan saat kapal melintasi jalur pelayaran strategis tersebut.
IRGC menegaskan bahwa tindakan tersebut dilaksanakan sesuai kewenangan hukum. “Operasi ini dilaksanakan dengan sukses sesuai tugas hukum dan demi melindungi kepentingan nasional serta sumber daya Republik Islam Iran, dan berada di bawah perintah otoritas yudisial,” demikian pernyataan Angkatan Laut IRGC.
Pemilik kapal Talara, Columbia Shipmanagement Ltd. yang berbasis di Siprus, mengoperasikan tanker tersebut dan menyatakan bahwa mereka telah kehilangan kontak dengan kapal beserta muatannya.
Baca Juga
Diplomasi Indonesia Dibutuhkan untuk Cegah Kekacauan di Selat Hormuz
Di sisi lain, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) pada Jumat menyebut bahwa mereka mengetahui penyitaan tersebut dan saat ini “secara aktif memantau” situasinya. CENTCOM turut menegaskan bahwa “kapal komersial berhak mendapatkan kebebasan navigasi yang sebagian besar tidak terhalang.”
Iran diketahui beberapa kali menahan kapal tanker lain dengan berbagai alasan, seperti dugaan membawa muatan ilegal, memasuki perairan Iran tanpa izin, atau sebagai respons terhadap penyitaan kapal Iran oleh negara lain.
Para pejabat Iran berkali-kali juga mengancam akan menutup jalur pelayaran di Selat Hormuz, selat sempit sepanjang 90 mil yang menghubungkan Teluk Oman dan Teluk Persia.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling vital di dunia, di mana seperempat minyak global dan seperlima gas alam cair (LNG) dikirim melalui perairan tersebut. Untuk menjaga keamanan pelayaran, Armada Kelima Angkatan Laut Amerika Serikat rutin melakukan patroli di kawasan tersebut.

