BSI Masuk 'Top 5' Bank di Indonesia
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BSI) pada 2025 masuk lima teratas (top 5) bank di Indonesia berdasarkan empat matriks utama, yakni simpanan atau tabungan (saving), pendapatan berbasis biaya (fee based income), laba bersih, dan pre-provision operating profit (PPOP) atau laba operasional sebelum pencadangan.
“Dari lima matriks utama, BSI hanya tak masuk top 5 dari sisi aset. Dengan total aset Rp 456 triliun, BSI berada di peringkat ke-6, di bawah Mandiri, BRI, BCA, BNI, dan BTN. Tapi berdasarkan empat matriks lainnya, BSI masuk top 5,” tutur Direktur Utama PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BSI), Anggoro Eko Cahyo dalam acara buka puasa bersama pimpinan media massa di Jakarta, Jumat (27/2/2026) malam.
Dari sisi saving, menurut Anggoro, bank yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan kode saham BRIS itu tahun lalu berada di peringkat ke-5 setelah BCA, BRI, Mandiri, dan BNI. Nilai tabungan BSI mencapai Rp 162 triliun, tumbuh 15,72% secara tahunan (year on year/yoy). Sedangkan berdasarkan fee based income, BSI mencatatkan Rp 6,89 triliun dengan pertumbuhan 25,06% (yoy) di bawah BRI, Mandiri, BCA, dan BNI.
Baca Juga
Dari sisi PPOP, kata Anggoro, BSI menempati ranking ke-5 dengan nilai Rp 12,36 triliun, tumbuh 10,68% (yoy). BSI berada di bawah BRI, BCA, Mandiri, dan BNI. Adapun dari sisi laba, BSI berada di peringkat ke-5. Bank yang baru menyandang status bank BUMN (Persero) ini mencatatkan laba bersih Rp 7,56 triliun pada 2025, tumbuh 8,02% dibandingkan tahun sebelumnya (yoy).
Anggoro Eko Cahyo mengungkapkan, seluruh indikator fundamental BSI menunjukkan kinerja yang mengesankan, dari pangsa pasar (market share), pertumbuhan aset, dana pihak ketiga (DPK), hingga pembiayaan.
Anggoro menjelaskan, pangsa pasar BSI dalam lima tahun terakhir (2020 vs Juni 2025) meningkat dari 6,99% menjadi 8,02% untuk perbankan syariah dan dari 2,86% menjadi 3,64% untuk perbankan nasional secara keseluruhan.
Baca Juga
Pangsa Pasar BSI Naik Jadi 8,02% di Perbankan Syariah, 3,64% di Perbankan Nasional
Dia mengemukakan, BSI sukses mempertahankan pertumbuhan aset dua digit dalam lima tahun terakhir. Sebelum merger, aset BSI mencapai Rp 240 triliun. “Pada 2021, aset BSI tumbuh 10,73% menjadi Rp 265 triliun, lalu naik lagi 15,35% menjadi 306 triliun pada 2022,” ujar dia.
Pada 2023, menurut Anggoro, aset BSI tumbuh 15,69% menjadi Rp 354 triliun, kemudian naik 15,54% menjadi Rp 409 triliun pada 2024. Selanjutnya,pada 2025, aset BSI tumbuh 11,49% menjadi Rp 456 triliun.
Dia menambahkan, tren pertumbuhan aset BSI sebesar dua digit terjadi sejalan dengan meningkatnya DPK perseroan. Sebelum merger, DPK BSI mencapai Rp 210 triliun, lalu tumbuh 11,12% menjadi Rp 233 triliun pada 2021.
“Selanjutnya DPK BSI naik 11,90% menjadi Rp 261 truliun pada 2022, dan kembali meningkat 12,64% menjadi Rp 294 triliun pada 2023. Dalam dua tahun berikutnya, DPK BSI masing-masing tumbuh 11,22% dan 16,21% menjadi Rp 327 triliun dan Rp 380 triliun,” papar dia.
Baca Juga
Kinerja Solid, Saham BSI (BRIS) Direkomendasi Beli dengan Potensi Cuan Ini
Untuk pembiayaan, BSI sebelum merger menyalurkan pembiayaan sebesar Rp 157 triliun. Pembiayaan BSI naik 9,32% menjadi Rp 171 triliun pada 2021, dan melesat 21,43% menjadi Rp 208 triliun pada 2022. Pada 2023, pembiayaan perseroan meningkat 15,38% menjadi Rp 240 triliun.
“Selanjutnya pembiayaan perseroan tumbuh 15,83% pada 2024 menjadi Rp 278 triliun. Tahun lalu,pembiayaan yang disalurkan BSI tumbuh14,75% menjadi Rp 319 triliun,” ucap Anggoro.
BSI merupakan bank syariah hasil merger Bank BRI Syariah, Bank Syariah Mandiri, dan Bank BNI Syariah. Bank tersebut baru saja mengantongi status Persero sehingga kini menyandang status sebagai bank BUMN.
Saham BSI saat ini dimiliki PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) sebesar 51,47%, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) sebesar 23,24%, Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) sebesar 15,38%, dan masyaraat 9,92%.

