Lompatan Harga Saham Berlanjut, Target BSI (BRIS) Menjadi Top 3 Bank Syariah Global makin Terbuka
JAKARTA, investortrust.id – Target PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) menjadi bank syariah jajaran top 3 bank syariah global dari sisi kapitalisasi kian terbuka, seiring dengan berlanjutnya lompatan harga saham ke level tertinggi baru dalam 3,5 tahun terakhir.
Berdasarkan data penutupan perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (17.9/2024), saham BRIS berhasil melesat sebanyak Rp 220 (7,69%) menjadi Rp 3.080. Saham bank syariah terbesar ini bergerak dalam rentang Rp 2.850-3.180 sepanjang sesi I. Level pergerakan tersebut menjadi level tertingi saham BRIS terhitung sejak pertengahan Januari 2021.
Dengan level penutupan Rp 3.080, market cap BRIS kini bertengger di level Rp 142 triliun. Jarak nilai market cap BRIS dengan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) bernilai lebih dari Rp 210 triliun kian mendekat.
Baca Juga
Hingga Paruh Pertama Tahun Ini, Nasabah Kaya BSI Tumbuh 10% jadi 60.000 Nasabah
Bahkan, BRIS tercatat sebagai saham bank dengan penguatan paling pesat sepanjang 2024 berjalan atau terhitung sejak akhir 2023 hingga hari in. Berdasarkan data, saham BRIS telah melesat 76,44% kurang dari 10 bulan ini. Jauh di atas BMRI dengan kenaikan 21%, BBTN sebanyak 13,82%, BBCA sebanyak 10,61%, BBNI mencapai 5,58%, dan BNGA sebanyak 13,49%. Sebaliknya saham BBRI dan BDMN masih mencatatkan pelemahan.
Manajemen BRIS sebelumnya menyebutkan bahwa target market cap di atas Rp 200 triliun dan menjadi bank top 3 bank syariah global akan dilakukan dengan berbagai cara. Salah satunya menambah jumlah free float atau saham publik dinaikkan tiga kali lipat lewat unlock value saham. Aksi ini disebut bisa mengerek market cap BRIS meningkat lebih dari dua kali dan masuk top ten saham di BEI.
Saat ini, mayoritas saham PT BSI Tbk masih dikuasai pemegang saham lama, yakni PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sebesar 51,47% dan sekaligus menjadi pengendali, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) sebesar 23,24%, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) sebesar 15,38%. Mandiri tidak diarahkan Kementerian BUMN untuk divestasi, melainkan tetap menjadi pemegang saham pengendali. BRI diharapkan melepaskan semua saham BSI, sedang BNI diimbau melepaskan 4,71% sahamnya.
Dengan melepaskan 4,71%, kepemilikan saham BNI di BSI turun ke 18,53%. Namun, dampak bagi BSI sangat besar. Setelah BRI dan BNI melakukan divestasi, saham publik BSI meningkat dari 9,91% ke 30%, suatu jumlah yang cukup signifikan untuk membuat saham bank syariah ini masuk MSCI Index, likuid, dan valuasinya melonjak hingga menembus Rp 200 triliun dalam waktu setahun ke depan.
Baca Juga
Komisaris BSI Sebut Bank Syariah Miliki Potensi Besar, Asalkan Penuhi Beberapa Syarat Ini
Dengan fee float yang mencapai 30%, Dirut BSI Hery Gunadi sebelumnya menyebutkan, saham BSI akan masuk Morgan Stanley Capital International (MSCI) Indonesia Index, yakni indeks yang diluncurkan Morgan Stanley Capital International. Indeks ini dinilai mencerminkan pergerakan harga saham yang tercatat di BEI dari berbagai kategori.
Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Muhammad Nafan Aji Gusta beberapa waktu lalu menyebutkan, unlock value melalui penambahan porsi saham publik BRIS adalah solusi yang perlu diwujudkan. “Unlock value melalui rights issue maupun penjualan langsung saham yang dimiliki BRI dan BNI bagus bagi perseroan pada masa akan datang,” ujarnya.
Lampaui Target
Di tengah lompatan harga saham BRIS hari ini, target harga saham bank syariah terbesar yang disematkan sejumlah analis beberapa waktu lalu telah terlewati. Di antaranya, Mandiri Sekuritas sebelumnya merekomendasikan beli saham BRIS dengan target harga Rp 3.050.
Begitu juga dengan BRI Danareksa Sekuritas sebelumnya merekomendasikan beli saham BRIS dengan target harga Rp 2.700. Target harga tersebut kini sudah jauh di bawah harga pasar saham BRIS setelah terjadi lompatan harga.
Sedangkan analis Sinarmas Sekuritas Ivan Purnama Putera mengatakan, BRIS tercatat sebagai bank papan atas dengan tingkat pertumbuhan laba bersih paling pesat pada paruh pertama tahun ini. Realisasi laba tersebut sudah sewsuai dengan 53% dari target yang ditetapkan Sinarmas Sekuritas.
Baca Juga
BSI (BRIS) Ungguli Bank Papan Atas, Bagaimana dengan Potensi Sahamnya?
Hal ini mendorong Sinarmas Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham BRIS dengan target harga Rp 3.130 per saham. Target tersebut menggambarkan perkiraan PB tahun 2025 sekitar 2,8 kali.
Target harga tersebut merefleksikan proyeksi kenaikan laba bersih BRIS menjadi Rp 6,42 triliun tahun ini, dibandingkan raihan tahun lalu Rp 5,70 triliun. Total pendapatan bagi hasil diharapkan meningkat dari Rp 23,15 triliun menjadi Rp 25,90 triliun.
Sedangkan Maquarie Sekuritas merevisi naik rekomendasi saham BRIS dari netral menjadi beli dengan target harga Rp 3.310. Dengan target hargat masih terbuka penguatan harga saham ini hampir 10% untuk beberapa hari ke depan.
Grafik Saham BRIS

