Rupiah Kembali Terdepresiasi, Imbas Calon Pengganti Ketua The Fed
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah kembali terdepresiasi dihadapan dolar Amerika Serikat (AS). Posisi rupiah melemah 0,02% pada Senin (2/1/2026) pukul 09.36 WIB.
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro menyatakan Wall Street tertekan pada akhir pekan lalu setelah Presiden AS, Donald Trump menominasikan Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed berikutnya. Langkah ini dipandang pasar sebagai langkah menuju kebijakan pelonggaran yang lebih disiplin dan berhati-hati.
“Pelaku pasar juga terus mencermati pergerakan lintas aset menyusul kejatuhan historis harga emas, perak, dan logam lainnya,” kata Andry, dalam keterangannya.
Baca Juga
Rupiah Melemah Tipis di Tengah Gonjang-ganjing Pengunduran Diri 5 Petinggi OJK dan BEI
Andry mencatat Indeks Dolar AS (DXY) naik ke level 96,7 setelah volatilitas awal. Pasar menilai Warsh sebagai sosok yang lebih hawkish dan mendukung penurunan suku bunga, meski tidak seagresif kandidat potensial lainnya, sehingga meredakan kekhawatiran atas independensi Federal Reserve. Investor masih memperkirakan satu kali pemangkasan suku bunga The Fed pada Juni dan satu kali lagi pada akhir tahun, kemungkinan Oktober.
Akibat bergerak naiknya DXY, dolar AS menunjukkan penguatan terhadap sejumlah mata uang negara mitra dagang Indonesia. Dolar AS menguat terhadap yen Jepang sebesar 0,13%, terhadap rupee India menguat 0,04%, terhadap ringgit Malaysia menguat 0,45%, dan terhadap dolar Singapura serta baht Tailan masing-masing menguat 0,09% dan 0,03%.
Sementara itu, terdapat pula mata uang yang menahan penguatan dolar AS. Yuan China, misalnya, menguat 0,09%, euro Uni Eropa menguat 0,15%, dan poundsterling Britania Raya menguat 0,04%, serta peso Filipina yang menguat 0,04%.
Andry mengatakan sepanjang Januari, dolar AS melemah 2%. Angka ini menunjukkan kinerja bulanan terburuk sejak Juni karena tertekan oleh sentimen “sell America” di tengah ketegangan geopolitik, perubahan kebijakan tarif Washington, serta pelemahan yen.
Baca Juga
Sementara itu, Gedung Putih dan Senat dari Partai Demokrat mencapai kesepakatan sementara untuk mencegah penutupan pemerintah AS, meski masih memerlukan persetujuan Senat.
Pekan pertama Februari 2026 ditandai pergerakan tidak biasa di pasar global sepanjang tahun ini. Kondisi ini muncul karena volatilitas ekstrem pada logam serta kekhawatiran terhadap pelemahan nilai dolar, bersamaan dengan penunjukan Ketua Federal Reserve yang baru oleh Presiden Trump.
Dari dalam negeri, PMI Manufaktur Indonesia versi S&P Global naik ke 52,6 pada Januari 2026 dari 51,2 pada bulan sebelumnya, menandai enam bulan berturut-turut ekspansi aktivitas manufaktur. Produksi meningkat untuk bulan ketiga berturut-turut dengan laju tercepat kedua dalam hampir satu tahun, sementara pesanan baru memperpanjang tren positif selama enam bulan, mencerminkan permintaan yang tetap solid.
“Pandangan tim ekonom Bank Mandiri, nilai tukar USD/IDR hari ini diperkirakan bergerak di kisaran Rp 16.745–16.810 per US$” kata dia.

