OJK Ingatkan Perbankan: Gagal Adopsi Tren AI, Laba Berisiko Ambles 9%
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memberikan peringatan bagi institusi perbankan yang lamban dalam mengadopsi teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Deputi Komisioner Kepala OJK Institute Anung Herlianto mengungkapkan bahwa kegagalan beradaptasi dengan tren AI dapat memicu penurunan laba yang sangat signifikan secara global. Mengutip data riset McKinsey, Anung menjelaskan bahwa rata-rata laba perbankan global berisiko merosot di kisaran 9% jika tidak segera merespons perkembangan AI.
"Secara global, laba perbankan bisa turun di kisaran 9% bila gagal beradaptasi dengan tren AI yang semakin meluas," ujar Anung dalam acara Virtual Seminar LPPI bertajuk “Tata Kelola AI Perbankan: Mitigasi Risiko dalam Akselerasi Transformasi Digital dan Adopsi AI", Jumat (30/1/2026).
Baca Juga
Didorong Kredit Investasi, OJK Catat Total Kredit Perbankan Tumbuh 9,6%
Lebih lanjut, Anung menyebut, ancaman lebih besar mengintai pada lini produk spesifik yang selama ini menjadi tulang punggung pendapatan bank.
Menurut Anung, risiko terbesar akibat keterlambatan teknologi ini terlihat pada produk kredit baru dan simpanan nasabah. "Dengan potensi penurunan laba hingga 34% dan 27% di berbagai wilayah, termasuk Eropa, Amerika Utara, dan Asia Pasifik," ungkap Anung.
Baca Juga
Meski Global Tak Pasti, OJK Sebut Kinerja Intermediasi Perbankan 2026 Masih Kokoh
Selain itu, penurunan nilai juga diprediksi terjadi pada layanan wholesale transaction banking serta sektor pembiayaan (financing). Anung menegaskan bahwa hampir seluruh produk perbankan saat ini berisiko mengalami erosi nilai jika tidak dibarengi dengan adaptasi teknologi yang cepat.
"Oleh karena itu, bank harus memperkuat layanan personalisasi dan mengembangkan kapabilitas AI internal agar hubungan dengan nasabah tetap dikelola oleh bank, bukan oleh platform pihak ketiga. Ini hanya akan meningkatkan risiko tersendiri," jelas Anung.

