Volatilitas Kripto Berlanjut, Ethereum Gagal Naik Lagi dan Bitcoin Berisiko Turun di Bawah US$ 100.000 di September
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Harga Bitcoin (BTC) kembali melemah signifikan. Begitupun dengan Ethereum (ETH) yang pada awal pekan sempat memecahkan rekor tertinggi barunya ke US$ 4.950 atau setara Rp 80,35 juta dengan asumsi kurs Rp 16.233 per dollar AS kini harus melemah cukup tajam.
Berdasarkan data CoinMarketCap Senin (26/8/2025) pukul 07.00 WIB, BTC diperdagangkan di level US$ 109.912 atau sekitar Rp 1,82 miliar, terkoreksi 3% dalam sehari dan 5,44% dalam sepekan terakhir. Penurunan ini membuat kapitalisasi pasar Bitcoin susut menjadi US$ 2,18 triliun, turun 3% dibanding pekan sebelumnya. Meski begitu, volume perdagangan harian justru naik 15,48% menjadi US$ 85,51 miliar, menunjukkan aktivitas pasar yang masih tinggi di tengah tekanan harga.
Total suplai Bitcoin yang beredar tercatat 19,91 juta BTC, mendekati batas maksimum 21 juta BTC. Tingkat perputaran tercatat di angka 3,9%.
Dalam rentang 7 hari terakhir, Bitcoin sempat menyentuh level tertinggi di US$ 116.183 pada 20 Agustus 2025 sebelum tertekan dan merosot ke kisaran US$ 109.912 pada perdagangan pagi ini.
Koreksi tajam ini memperpanjang tren volatilitas Bitcoin, yang sebelumnya sempat rebound usai pidato Jackson Hole, namun kembali kehilangan momentum.
Baca Juga
Kehilangan Momen Reli, Bitcoin Jatuh ke Level US$ 110.000-an
Senada, Ethereum (ETH), aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar kedua setelah Bitcoin, mencatat penguatan tipis pada perdagangan Selasa (26/8/2025). Berdasarkan data CoinMarketCap pukul 10.30 WIB, ETH diperdagangkan di level US$ 4.380,47 atau sekitar Rp 72,6 juta, turun 9% dalam sehari dan masih naik 1,61% dalam sepekan terakhir.
Meski demikian, kapitalisasi pasar Ethereum justru melemah 8,38% menjadi US$ 528,75 miliar. Aktivitas perdagangan tercatat meningkat signifikan dengan volume harian mencapai US$ 63,69 miliar, melonjak 21,83% dibandingkan periode sebelumnya.
Dalam sepekan terakhir, ETH sempat bergerak fluktuatif dari level terendah US$ 4.039 pada 20 Agustus 2025, lalu mencapai puncak mendekati US$ 4.800 sebelum terkoreksi kembali ke posisi saat ini.
Jumlah pasokan ETH yang beredar saat ini sebesar 120,7 juta ETH, tanpa batas maksimum suplai. Tingkat perputaran tercatat cukup tinggi, yakni 12,11%, menandakan likuiditas yang solid di pasar. Penguatan terbatas Ethereum terjadi di tengah volatilitas kripto global, dengan investor masih mencermati sentimen regulasi serta arah kebijakan moneter yang memengaruhi minat terhadap aset digital.
Proyeksi Harga
Sementara itu, potensi koreksi Bitcoin di bulan September, yang diproyeksikan di bawah US$ 100.000, telah menarik perhatian para analis utama, termasuk Benjamin Cowen, yang dipengaruhi oleh pola historis pasca halving dan sentimen perdagangan terkini. Peristiwa ini menyoroti sifat siklus pergerakan pasar Bitcoin, yang memengaruhi strategi institusional dan potensi peluang investasi karena tren historis menunjukkan peluang pemulihan harga di akhir tahun.
Banyak analis, termasuk Benjamin Cowen, mengutip pola historis yang menunjukkan bahwa pelemahan di bulan September pasca halving seringkali menghasilkan peluang potensial bagi investor seiring kondisi kemudian stabil.
Analis terkemuka seperti Benjamin Cowen menekankan siklus pasca halving Bitcoin. Komunitas keuangan mengamati pola di mana reli di akhir tahun seringkali mengikuti penurunan di bulan September. Pentingnya siklus historis dalam membentuk prakiraan pasar saat ini tidak dapat diabaikan.
“Bitcoin mengikuti fraktal historis pasca halving siklus secara konsisten menampilkan pelemahan di bulan September sebelum potensi reli lebih lanjut di akhir tahun," ujar Benjamin Cowen melansir Coinmarketcapnews, Selasa (26/8/2025).
Baca Juga
Ethereum Melonjak ke Rekor Tertinggi Baru, Analis Ingatkan Ada Risiko di Bulan September
Pasar mata uang kripto berpotensi mengalami dampak terutama pada valuasi BTC. Koreksi di bulan September dapat memengaruhi stabilitas pendanaan, volume perdagangan, dan sentimen investor. Penurunan harga juga dapat memengaruhi pola investasi di berbagai mata uang kripto lain dan instrumen keuangan terkait.
Data historis menunjukkan volatilitas pasar Bitcoin yang signifikan selama fase pasca halving bulan September sebelumnya. Analis memperkirakan bahwa koreksi tersebut dapat memengaruhi investor ritel dan institusional dengan berpotensi menyelaraskan kembali posisi pasar dan mendorong pembelian strategis jangka panjang.
Penyesuaian pasar di bulan September seringkali mengakibatkan penurunan harga Bitcoin sementara. Para pengamat memprediksi reaksi serupa dalam valuasi aset, yang berpotensi meluas ke berbagai kelas mata uang kripto. Dampaknya terhadap strategi investor bisa signifikan, membentuk kembali keterlibatan jangka panjang.
Koreksi yang diperkirakan dapat menyebabkan pergeseran keuangan yang signifikan, sejalan dengan penurunan historis siklus Bitcoin di bulan September. Analisis data on chain, tingkat likuiditas, dan sentimen perdagangan menunjukkan pasar bersiap menghadapi kemungkinan perubahan jangka pendek yang diikuti oleh pemulihan pada akhirnya.
Secara terpisah, Analis Tokocrypto Fyqieh Fachrur juga mengingatkan untuk lebih berhati-hati di bulan September. "Pasalnya, data historis menunjukkan bahwa bulan September sering kali menjadi bulan terlemah bagi ETH, sejak 2016, rata-rata performa September mencatat penurunan sekitar -6,4%," ujarnya kepada investortrust.id, Senin (25/8/2025).
Meski begitu, beberapa analis tetap optimis. Beberapa analis teknikal melihat peluang terus bullish dengan target jangka pendek antara US$ 5.000 – US$ 5.200, terutama jika breakout saat ini ditopang momentum altcoin season. Bahkan, Standard Chartered menaikkan target ETH hingga US$ 7.500 akhir tahun ini.

