Meski Global Tak Pasti, OJK Sebut Kinerja Intermediasi Perbankan 2026 Masih Kokoh
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Di tengah dinamika global yang masih penuh ketidakpastian, perekonomian domestik pada triwulan III 2025 mencatatkan pertumbuhan yang cukup tinggi, yakni 5,04%, yoy. Pada kuartal IV 2025, Sektor manufaktur terpantau masih ekspansif dan kinerja eksternal tetap terjaga dengan neraca perdagangan yang masih mencatatkan surplus.
Sejalan dengan hal tersebut, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memandang bahwa prospek ekonomi 2026 masih akan diwarnai dengan berbagai dinamika, termasuk yang dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik dan potensi dampaknya terhadap stabilitas politik dan pasar keuangan global secara keseluruhan.
"Lembaga multilateral memperkirakan pertumbuhan ekonomi global yang melandai masih akan berlanjut dan berada di bawah rata-rata pertumbuhan pra-pandemi, seiring meningkatnya risiko fiskal di sejumlah negara utama," ujar Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Dian Ediana Rae dalam jawaban tertulis Konferensi Pers Asesmen Sektor Jasa Keuangan dan Kebijakan OJK Hasil Rapat Dewan Komisioner (RDK) Bulanan Desember 2025, Kamis (22/1/2026).
Baca Juga
Kredit Perbankan Berpotensi Tertekan Karena Banjir, BRI Dorong Pentingnya Mitigasi Risiko Iklim
Namun demikian, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi pada tahun 2026 sebesar 5,4%. Optimisme proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih cukup baik diharapkan dapat menarik minat investasi ke domestik dan meningkatkan permintaan kredit.
Di sisi lain, untuk tahun 2026, kinerja intermediasi perbankan diproyeksikan tetap solid, dengan pertumbuhan kredit dan dana pihak ketiga (DPK) yang tetap stabil, ditopang oleh kualitas kredit yang terjaga dan permodalan yang kuat. Selain itu, laba industri perbankan juga diproyeksikan akan tetap tumbuh positif.
"Namun demikian, faktor ketidakpastian global dan perkembangan domestik diperkirakan akan tetap mewarnai dinamika kinerja perbankan," ungkap Dian.
Baca Juga
Menurut Dian, hal tersebut perlu menjadi perhatian mengingat laju pertumbuhan kredit juga sangat bergantung pada kondusifitas perekonomian dan geopolitik global, serta kondisi domestik antara lain permintaan kredit/pembiayaan dari dunia usaha, kondisi iklim investasi dan prospek pertumbuhan ekonomi nasional.
Selain itu, para pemangku kepentingan di dalam negeri juga diharapkan dapat bersinergi untuk penguatan berbagai aspek penopang pertumbuhan ekonomi dimaksud yang akan menjadi kunci untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi agar penyaluran kredit yang sehat dan kontributif dapat tercapai.

