Rupiah Kembali Melemah Terhadap Dolar AS
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Sempat menguat pada Rabu (14/1/2026), rupiah bergerak melemah terhadap dolar AS pada Kamis (15/1/2026). Rupiah tergelincir di posisi Rp 16.871 per US$.
Dolar AS sendiri bergerak positif terhadap sejumlah mata uang negara-negara mitra dagang Indonesia. Dolar AS terpantau di papan data Bloomberg menguat terhadap yen Jepang, rupee India, peso Filipina, dan baht Thailand. Yen melemah 0,04%, rupee melemah 0,12%, peso Filipina melemah 0,01%, dan bath melemah 0,22%.
Ringgit Malaysia tak bergerak karena ada libur hari besar di Malaysia untuk memperingati Hari Ulang Tahun Yang Dipertuan Besar Negeri Sembilan.
Pelemahan juga terpantau terhadap euro Uni Eropa dan poundsterling Britania Raya yang masing-masing melemah 0,03% dan 0,08%.
Baca Juga
Sementara itu, dolar Singapura dan yuan China menguat terhadap dolar AS. Dolar Singapura menguat 0,02% dan yuan China menguat 0,06%.
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro menjelaskan bahwa investor mencermati perkembangan perang tarif AS. Baru-baru ini, Presiden AS, Donald Trump mengenakan tarif sebesar 25% terhadap sejumlah chip akal imitasi atau AI, seperti prosesor AI H200 milik Nvidia dan semikonduktor dari AMD, MI325X. Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya yang lebih luas untuk menciptakan insentif bagi produsen chip agar meningkatkan produksi semikonduktor di AS.
Penjualan rumah eksisting di Amerika Serikat melonjak 5,1% secara bulanan menjadi tingkat tahunan sebesar 4,35 juta unit pada Desember 2025. Angka ini jauh di atas ekspektasi pasar dan mencatatkan kenaikan tertajam dalam hampir dua tahun sekaligus level tertinggi dalam hampir tiga tahun.
Lonjakan penjualan tersebut mendorong persediaan rumah turun tajam 18,1% secara bulanan menjadi 1.180.000 unit, setara dengan 3,3 bulan pasokan pada tingkat penjualan saat ini.
Baca Juga
Persediaan bisnis di AS meningkat 0,3% secara bulanan pada Oktober 2025, menjadi pertumbuhan tercepat sejak Januari 2025 dan melampaui ekspektasi pasar sebesar 0,2%.
Kenaikan ini mengikuti revisi naik pertumbuhan 0,3% pada September. Persediaan ritel menjadi pendorong utama dengan kenaikan 0,6%, meningkat dari 0,5% pada bulan sebelumnya.
Di sisi lain, Indeks dolar AS (DXY) bertahan di sekitar level 99 pada Rabu, sedikit turun dari level tertinggi satu bulan yang dicapai sebelumnya, seiring pasar terus menilai besaran penurunan suku bunga yang mungkin dilakukan the Federal tahun ini. Baik inflasi produsen utama maupun inti pada November tidak melampaui ekspektasi, sejalan dengan laporan CPI yang moderat pada pekan ini.
Hasil tersebut mempertahankan pandangan pasar bahwa the Fed memiliki ruang untuk memangkas suku bunga beberapa kali tahun ini guna memprioritaskan pasar tenaga kerja yang mulai stagnan. Meski demikian, sebagian anggota FOMC terus menyuarakan kekhawatiran terhadap inflasi yang masih membandel.
Dolar AS mendapat dukungan dari melemahnya yen Jepang setelah Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menyatakan akan menggelar pemilu cepat, yang diperkirakan dapat mengamankan mandat yang lebih kuat dan memperpanjang kebijakan fiskal longgar yang ia dorong.

