Bangkit! Rupiah Menguat di Hadapan Dolar AS
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah menguat di hadapan dolar Amerika Serikat (AS). Rupiah di posisi Rp 16.871 per US$ menurut Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) pada Rabu (14/1/2026).
Pengamat komoditas dan mata uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan investor mengamati data indeks harga konsumen AS yang dirilis pada Selasa, berada di bawah ekspektasi. CPI inti naik 0,2% pada Desember dan 2,6% secara tahunan, di bawah perkiraan.
“Ini memperkuat spekulasi penurunan suku bunga di masa mendatang. Pasar sekarang memperkirakan sekitar dua kali penurunan suku bunga pada 2026,” kata Ibrahim.
Risiko geopolitik tetap menjadi fokus utama pasar. Iran yang dilanda protes anti-pemerintah yang semakin intensif. Kerusuhan tersebut memicu peringatan Presiden AS, Donald Trump yang memperingatkan kemungkinan tindakan militer dan mengancam akan mengenakan tarif 25% terhadap negara-negara yang berbisnis dengan Iran.
Selain itu, kekhawatiran atas independensi bank sentral AS mencuat. Kekhawatiran muncul karena Ketua the Federal, Jerome Powell terbuka dalam penyelidikan kriminal.
“Meskipun perkembangan ini membuat investor gelisah, para kepala bank sentral dan eksekutif bank besar secara terbuka mendukung Powell, menekankan pentingnya menjaga otonomi the Fed di tengah tekanan ekonomi,” ujar dia.
Baca Juga
Tak Perlu Khawatir, Menkeu Purbaya: Rupiah akan Menguat dalam Dua Pekan
Di dalam negeri, Bank Indonesia (BI) angkat bicara menjelaskan alasan melemahnya rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) selama dua pekan terakhir pada awal 2026.
Rupiah ditutup pada level Rp 16.860 per US$. Dalam catatan BI, rupiah terdepresiasi sebesar 1,04% secara tahun berjalan.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin G. Hutapea mengatakan bank sentral akan secara konsisten menjaga stabilitas nilai tukar sehingga dapat menjaga stabilitas dan mendukung pertumbuhan ekonomi. Pergerakan mata uang global pada awal 2026 ini, termasuk Indonesia, banyak dipengaruhi oleh meningkatnya tekanan di pasar keuangan dunia.
“Tekanan tersebut bersumber dari eskalasi tensi geopolitik, kekhawatiran terhadap independensi bank sentral di sejumlah negara maju, serta ketidakpastian arah kebijakan moneter The Fed ke depan, di tengah kebutuhan valuta asing domestik yang meningkat pada awal tahun,” kata Erwin, dalam keterangan resminya, Rabu (14/1/2026).
Erwin mengatakan, pelemahan rupiah masih sejalan dengan pergerakan nilai tukar regional yang juga terdampak sentimen global, antara lain won Korea yang melemah sebesar 2,46% dan peso Filipina sebesar 1,04%.

