Rupiah Hampir Tembus Rp 17.000, Begini Kata Pelaku Usaha
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Nilai tukar rupiah yang kembali melemah dan nyaris menembus level Rp 17.000 per dolar Amerika Serikat (AS) dinilai belum menjadi ancaman serius bagi dunia usaha. Pelaku usaha menilai tekanan terhadap rupiah lebih bersifat sementara dan tidak mencerminkan pelemahan fundamental ekonomi nasional.
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Bakrie mengungkapkan, kondisi rupiah perlu dilihat secara menyeluruh dengan mempertimbangkan berbagai indikator ekonomi, baik dari sisi eksternal maupun internal.
“Kita lihat rupiah itu ujungnya ada berbagai macam hal, pertama tentunya perdagangan. Tapi perdagangan kita paling tidak kita bisa katakan kalau tidak salah 48 bulan berturut-turut, bahkan kalau tidak salah lima tahun itu positif. Jadi paling tidak ada buffer-nya di situ,” ujarnya, usai Diskusi MBG Outlook: Masa Depan Gizi Anak Indonesia, yang digelar di Menara Kadin, Jakarta, Rabu (14/1/2026).
Baca Juga
Selain perdagangan, Anindya menyoroti peningkatan arus investasi asing langsung atau foreign direct investment (FDI) yang masih menunjukkan tren positif. Hal ini mencerminkan kejutan yang ada itu mungkin hanya bersifat sementara.
“Tentu karena pasar bebas ada naik ada turun berdasarkan kepercayaan, dibandingkan juga dengan negara lain yang mungkin lagi ada upaya-upaya tertentu,” katanya.
Dari sisi fundamental, Anindya menilai ekonomi Indonesia masih berada dalam kondisi yang solid. Pertumbuhan ekonomi nasional masih berada di atas 5%, inflasi terjaga di kisaran 2,5%, dan rasio utang pemerintah terhadap produk domestik bruto (PDB) berada di kisaran 40%.
Baca Juga
Tak Perlu Khawatir, Menkeu Purbaya: Rupiah akan Menguat dalam Dua Pekan
“Jadi saya rasa sih tetap kita harus waspada. Tidak ada yang boleh dianggap enteng, tapi kita merasa cukup yakin dalam jangka panjang rupiah akan stabil,” ucapnya.
Terkait dampak langsung bagi dunia usaha, Anindya menyebut, hingga saat ini belum ada tantangan signifikan dalam jangka pendek. Menurutnya, tekanan yang terjadi lebih banyak dipengaruhi oleh dinamika penawaran dan permintaan di pasar uang.
“Kalau secara fundamental belum, kalau secara supply and demand tentunya itu ada di pasar uangnya,” ujar Anindya.

