Rupiah Menguat Terhadap Dolar AS di Level Rp 16.670 per US$
Poin Penting
|
BALI, investortrust.id - Rupiah menguat di hadapan dolar Amerika Serikat (AS) sebesar 30 poin atau naik 0,18% ke pevel Rp 16.670 per US$. Saat ini indeks dolar AS atau DXY berada di posisi 100,15.
Penguatan rupiah juga diikuti yen Jepang. Mata uang ini naik 0,17%, yen China menguat 0,17%, won Korea Selatan sebesar 0,2%, dan dolar Singapura sebesar 0,08%, serta baht Thailand sebesar 0,09%. Rupee India juga terlihat menguat sebesar 0,28% terhadap dolar AS.
Pelemahan dolar AS juga terjadi di hadapan dua mata uang utama yaitu euro Uni Eropa sebesar -0,06% dan terhadap poundstreling Britania Raya turun -0,05%.
Pelemahan dolar AS ini terjadi karena sentimen pasar terhadap pernyataan salah satu petinggi the Fed, Christopher Waller.
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong rupiah diperkirakan akan menguat terhadap dolar AS di tengah sentimen risk on oleh meningkatnya prospek pemangkasan suku bunga menyusul pejabat the Fed Waller yang mengatakan bahwa pemangkasan suku bunga Desember seusai dan diperlukan dengan keadaan perekonomian AS saat ini.
"Sentimen risk on juga didukung oleh kembalinya euphoria AI," kata Lukman, Selasa (25/11/2025).
Lukman memperkirakan perdagangan rupiah terhadap dolar AS diperkirkan sebesar Rp 16.600 hingga Rp 16.750 per US$.
Pengamat komoditas dan mata uang, Ibrahim Assuaibi menilai pasar dalam negeri melihat peran IMF yang menilai Indonesia berada pada lintasan pertumbuhan kuat dengan fondasi makro yang semakin solid. Proyeksi pertumbuhan 5%-5,8% pada 2025 dan 5%-6% pada 2026 sebagai indikasi bahwa stabilitas Indonesia tidak hanya terjaga, tetapi terus menguat.
"Kerangka kebijakan pemerintah meliputi investasi infrastruktur, penguatan industrialisasi hilir, dan peningkatan produktivitas tenaga kerja telah membentuk basis pertumbuhan yang lebih kokoh dalam beberapa tahun terakhir," kata Ibrahim.
Selain itu, bauran kebijakan fiskal dan moneter Indonesia sebagai bentuk "rekayasa presisi" yang menjaga stabilitas makro sekaligus memperluas daya tarik investasi.
Sedangkan Bank Indonesia (BI) menjelaskan berbagai indikator utama menunjukkan ketahanan struktural yang signifikan. BI dinilai menjalankan pelonggaran terukur sambil menjaga stabilitas eksternal, didukung inflasi yang stabil di sekitar
Dalam proyeksinya, stabilitas akan menjadi aset strategis Indonesia, stabilitas tersebut sebagai "mata uang strategis" yang memperkuat posisi Indonesia menuju Visi Indonesia Emas 2045.
"Kejelasan kebijakan, konsistensi regulasi, dan disiplin fiskal dinilai menciptakan lingkungan yang 'secara struktural investable," ujar dia.

