AAUI Prediksi Premi Asuransi Umum Tumbuh 8% di Akhir 2025
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) memperkirakan industri asuransi umum nasional mampu mencatatkan pertumbuhan premi hingga 10% di akhir 2025, meski dihadapkan pada sejumlah tantangan.
“Berbicara dengan teman-teman, dan kita juga harus realistis tersisa satu setengah bulan mudah-mudahan mencapai 8% (pertumbuhan premi),” ujar Ketua AAUI Budi Herawan, dalam Konferensi Pers Kinerja Asuransi Umum Kuartal III 2025 yang digelar AAUI, di Jakarta, Kamis (20/11/2025).
Optimisme tersebut didorong oleh sejumlah kebijakan yang belakangan ini dikeluarkan oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa untuk mendongkrak perekonomian nasional, yang pada akhirnya akan berdampak positif bagi industri asuransi umum.
“Dan juga tentunya dari beberapa prognosis dari para ekonom saya pikir juga menjadi barometer bagi kita bagaimana kita menghitung, mengkalkulasi terhadap prognosa kita hingga akhir tahun 2025,” kata Budi.
Baca Juga
Tumbuh 6,3%, AAUI Catat Premi Asuransi Umum Rp 84,77 Triliun di Kuartal III 2025
Di sisi bersamaan, AAUI juga terus mendorong industri untuk mengoptimalkan kinerja di tahun ini dengan memberikan sejumlah terobosan. Salah satunya, mendorong asuransi berbasis parametrik untuk gempa bumi dan pertanian.
“Asuransi mempunyai peluang yang sangat besar di sektor UMKM (usaha mikro kecil dan menengah). Bukan untuk KUR (kredit usaha rakyat), tapi untuk asuransi harta benda,” ucap Budi.
Selain itu, AAUI juga telah bekerja sama dengan Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) yang diharapkan dapat dijembatani Kementerian UMKM agar bisa menjadi pendorong untuk bisa menggarap potensi dari 100 juta UMKM yang ada di Indonesia.
“Kalau kita hitung saja masing-masing (UMKM) bisa berkontribusi premi Rp 50.000, hasilnya berapa banyak?,” ujar Budi.
Baca Juga
OJK Tanggapi Permintaan AAUI untuk Tunda Pemenuhan Ekuitas Minimum
Kemudian, AAUI juga mendorong industri untuk memanfaatkan peluang di asuransi siber. Sebab, saat ini keamanan siber telah menjadi kewajiban mutlak di sejumlah korporasi.
Meski begitu, proyeksi tersebut sedikit direvisi AAUI dari perkiraan sebelumnya yang tumbuh 10% di akhir 2025. Hal itu dipicu oleh sejumlah tantangan, seperti penerapan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 117 yang membutuhkan upaya serius.
“Belum lagi tekanan ekonomi dari dalam negeri maupun global. Kita ketahui bahwa kondisi ekonomi kita masih bergantung pada tiga wilayah, yaitu China, Uni Eropa, dan Amerika Serikat (AS),” ucap Budi.

