Rupiah Menguat Tipis Jelang Pengumuman APBN KiTa
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah menguat tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Selasa pagi (14/10/2025) beberapa jam sebelum pengumuman APBN KiTa edisi Oktober 2025. Rupiah menguat 14 poin atau naik 0,08% ke level Rp 16.559 per US$.
APBN KiTa merupakan singkatan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Kita, yaitu laporan resmi bulanan yang diterbitkan oleh Kementerian Keuangan Republik Indonesia (Kemenkeu). Laporan APBN KiTa berfungsi untuk memberikan update kinerja APBN secara berkala, termasuk realisasi pendapatan negara, belanja negara, defisit/surplus, pembiayaan, serta kinerja ekonomi makro. Tujuannya agar publik, investor, dan pemangku kebijakan mendapatkan gambaran transparan mengenai kondisi fiskal Indonesia.
Penguatan rupiah terhadap dolar AS, menurut data Bloomberg pukul 09.54 WIB, seiring dengan melemahnya indeks dolar AS yang melemah tipis, 0,01% ke level 99,26.
Pada pagi ini, dolar AS masih terpantau melemah ke sejumlah mata uang. Selain terhadap Mata Uang Garuda, greenback juta melemah terhadap euro Uni Eropa dan poundsterling Inggris. Dolar AS melemah masing-masing -0,05% dan -0,08%.
Baca Juga
Selain mata uang utama tadi, dolar AS juga melemah terjadap ringgit Malaysia sebesar -0,03%, peso Filipina sebesar -0,02%, dan baht Thailand sebesar -0,1%, serta dolar Singapura sebesar -0,02%.
Sementara itu, dolar AS menguat terhadap mata uang dua negara di kawasan Asia Timur, yaitu China, Jepang, dan Korea Selatan. Terhadap yuan, dolar AS menguat 0,07%. Sedangkan terhadap yen dan won, dolar AS menguat masing-masing 0,06% dan 0,15%.
Bank Mandiri memprediksi perdagangan rupiah pada hari ini bergerak pada kisaran Rp 16.540 hingga Rp 16.633 per US$.
Baca Juga
Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro menjelaskan kembalinya DXY dari posisi pelemahan muncul karena Presiden AS Donald Trump menarik kembali ancaman ke China. Trump menyatakan hubungan dagang dengan China akan baik-baik saja.
Sementara itu, imbas perdagangan AS dengan China, net inflow asing pada perdagangan di pasar modal mencapai Rp 2,3 triliun. Ini membuat IHSG turun 0,37% pada Senin (13/10/2025).
Posisi imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun turun 1,2 basis poin (bps) menjadi 6,10%, namun imbal hasil obligasi pemerintah USD tenor 10 tahun naik 0,8 bps menjadi 5%.

