Hasil Investasi Asuransi Jiwa Merosot Tajam, Sejumlah Hal Ini Disinyalir Jadi Penyebabnya
JAKARTA, investortrust.id - Industri asuransi jiwa dihadapkan pada tantangan besar di awal tahun ini. Tercermin, dari hasil investasinya yang anjlok drastis menjadi Rp 340 miliar pada kuartal I 2025, padahal di periode yang sama tahun sebelumnya tembus Rp 1,2 triliun.
DH Pricing & Reinsurance PT Perta Life Insurance (PertaLife) Fadjar Prasetyo menilai, merosotnya hasil investasi tidak lepas dari faktor makro ekonomi dan dinamika dari internal masing-masing perusahaan asuransi.
“Mungkin dipengaruhi oleh faktor ekonomi Indonesia, jadi faktor eksternal dari perusahaan-perusahaan asuransi tersebut memengaruhi imbal hasil investasi, yang menyebabkan perusahaan asuransi agak berat mendapatkan hasil investasi,” ujarnya, di Kantor Investortrust, di The Convergence Indonesia, Jakarta, Rabu (11/6/2025).
Selain itu, ia juga menyebut kondisi investasi yang tak menentu juga dipengaruhi oleh kondisi politik yang terjadi di dalam negeri pasca pergantian presiden, yang kini dalam masa transisi. “Kemarin habis pergantian pemimpin, mungkin masih belum settle atau seperti apa, kemudian memengaruhi kondisi ekonomi Indonesia. Dan akhirnya berdampak pada hasil investasi asuransi,” kata Fadjar.
Sementara itu, Ketua Financial Planning Standards Board (FPSB) Indonesia Tri Djoko Santoso menilai ada sejumlah penyebab turunnya hasil investasi, mulai dari kondisi pasar modal yang belum pulih hingga perubahan strategi investasi perusahaan asuransi.
“Dugaan saya sebetulnya adalah saat ini pasar modal belum pulih. Ketika dia belum pulih seperti saham misalnya, maka dana-dana yang kebanyakan unit link itu juga belum recover. Mungkin itu,” ucapnya.
Ia juga menyatakan adanya pergeseran strategi di banyak perusahaan asuransi, dari produk berbasis investasi (unit link) ke produk tradisional seperti dwiguna (endowment). Di sisi lain, di tengah kondisi tidak pasti, banyak pelaku industri memilih untuk bermain aman untuk mengalihkan investasi ke instrumen yang lebih stabil seperti obligasi dan pasar uang.
“Banyak perusahaan asuransi yang juga lebih main aman dalam ketidakpastian ini, dia pindahin (investasi) ke pasar uang dengan tingkat return yang sangat terbatas. Tentunya, itu membuat banyak perusahaan asing yang melakukan efisiensi operasional karena ketidakpastian ini,” kata Tri Djoko.
Menurutnya, penurunan hasil investasi tidak serta merta menjadi sinyal bencana bagi industri perasuransian. “Mesti dilihat kenapa (turun). Saya lebih melihat teman-teman di industri asuransi bermain aman, bermain nyaman, tidak mau ambil risiko supaya selamat dalam masa-masa yang tidak pasti,” ucap dia.

