Antisipasi Volatilitas Tinggi, Begini Strategi Investasi PertaLife Insurance
JAKARTA, investortrust.id - Di tengah kondisi pasar modal yang mengalami volatilitas tinggi belakangan ini, PT Perta Life Insurance (PertaLife Insurance) memiliki sejumlah strategi investasi yang dirancang fleksibel agar bisa disesuaikan dengan dinamika pasar.
Direktur Keuangan dan Investasi PertaLife Insurance Sigit Panilih mengungkapkan, fleksibilitas strategi investasi yang terdiri dari konservatif, moderat, dan optimis tersebut akan diterapkan pihaknya dengan menyesuaikan kondisi pasar modal.
”Masing-masing (strategi) ini kan kita lihat iklim investasi, jadi sebenarnya kita bisa switch misalnya sedang iklim investasi bagus kita bisa switch dari yang moderat ke optimis,” ujarnya, dalam acara Halal Bi Halal PertaLife dengan media, di Jakarta, Senin (21/4/2025).
Baca Juga
Menurut Sigit, pihaknya juga melakukan monitoring secara berkala untuk memastikan penerapan strategi investasi yang efektif sesuai dengan kondisi pasar modal.
“Jadi kita ada evaluasi seperti apa kondisinya, apakah kita masih cukup bagus nih untuk investasi di saham atau tetap stay di portofolio SBN (surat berharga negara), mungkin di obligasi korporasi. Jadi strategi kami, kami tetap akan melihat dan melakukan evaluasi berkala untuk investasi ini,” katanya.
Baca Juga
PertaLife Insurance Cetak Laba Bersih Rp 97,18 Miliar di 2024
Selain itu dari sisi pengelolaan investasi, lanjut Sigit, PertaLife Insurance menerapkan strategi ALMA (asset liability management). Sebab, strategi investasi yang diterapkan pihaknya akan disesuaikan dengan liability dengan pemegang polis.
“Jadi jika misalkan asuransi ini bersifat jangka panjang sebenarnya kami akan menyesuaikan dengan di sebuah instrumen yang sebetulnya jangka panjang seperti obligasi, kemudian juga di kami porsi terbesarnya di SBN yang secara risiko lebih rendah tapi memiliki yield yang cukup bagus,” ucap Sigit.
Ia menjelaskan, seiring dengan kondisi volatilitas yang tinggi di pasar modal, hasil investasi PertaLife Insurance juga menantang. Hal ini tercermin dari penurunan hasil investasi sebesar 7,36%, dari Rp 153,81 miliar pada 2023 menjadi Rp 142,50 miliar di tahun lalu.
“Tapi kalau kita lihat di sektor industri asuransi jiwa di tahun 2024 itu cukup signifikan penurunannya sekitar 30%. Jadi kalau dari portofolio kami sendiri ini sebenarnya tidak lebih buruk dari industri,” ujar Sigit.
Penurunan hasil investasi yang tidak sedalam industri tersebut disebabkan oleh penempatan investasi PertaLife yang lebih banyak di SBN. Lalu juga ada portofolio saham, namun porsinya hanya di kisaran 4% sehingga tak terlalu berdampak.

