OJK Proyeksi Piutang Pembiayaan Multifinance Tumbuh 10% di 2025
JAKARTA, investortrust.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memproyeksikan piutang pembiayaan di industri perusahaan pembiayaan atau multifinance akan tumbuh di kisaran 8% hingga 10% pada 2025.
“Dengan mencermati kondisi penjualan kendaraan bermotor yang menurun, piutang pembiayaan perusahaan pembiayaan diproyeksikan masih tumbuh positif,” ujar Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya (PVML) OJK Agusman, dalam jawaban tertulis, Selasa (18/2/2025).
Hingga Desember 2024, piutang perusahaan pembiayaan tercatat tumbuh 6,92% secara year on year (yoy) menjadi Rp 503,43 triliun. Jika dirinci, pembiayaan multiguna berkontribusi 50,42% dari total piutang pembiayaan, diikuti pembiayaan investasi 33,87%, lalu pembiayaan modal kerja 9,91%, serta pembiayaan lainnya dan pembiayaan berdasarkan prinsip syariah masing-masing 0,34% dan 5,45%.
Jika dibanding dua tahun ke belakang, pertumbuhan piutang pembiayaan multifinance memang trennya melambat. Di mana pada 2022 dan 2023 piutang pembiayaan secara industri masing-masing tumbuh 14,18% (yoy) dan 13,23% (yoy).
Baca Juga
Pembiayaan Solusi Emas Hijrah Bank Muamalat Tembus Rp 39,7 Miliar
Perlambatan ini juga terjadi dalam beberapa bulan belakangan. Pada November 2024 misalnya, piutang pembiayaan multifinance tumbuh 7,27% secara (yoy) menjadi Rp 501,37 triliun. Lalu Oktober 2024 tumbuh 8,37% (yoy) menjadi Rp 501,89 triliun, kemudian per September 2024 naik 9,39% (yoy) menjadi Rp 501,78 triliun.
Agusman menyatakan, pertumbuhan yang cenderung melambat khususnya pada Desember 2024, salah satunya disebabkan oleh penurunan penjualan kendaraan bermotor. Sebab, sepanjang tahun lalu terjadi penurunan penjualan kendaraan bermotor sebesar 13,93% (yoy) menjadi 865.723 unit.
Baca Juga
“Penyebab pertumbuhan industri pembiayaan tidak mencapai double digit tersebut antara lain dikarenakan menurunnya penjualan kendaraan bermotor,” katanya.
Di samping itu, lanjut Agusman, saat ini multifinance menghadapi risiko pertumbuhan yang lebih rendah dari target sebelumnya, sebagai dampak atas tantangan eksternal, antara lain kondisi geopolitik yang mempengaruhi ekonomi global.
“Risiko tersebut juga dapat mempengaruhi penjualan kendaraan bermotor,” ucap Agusman.

