BPJS Kesehatan Kucurkan Biaya Sebesar Rp 158 Triliun untuk Layanan Kesehatan
JAKARTA, investortrust.id – Direktur Utama Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, Ali Ghufron Mukti mengungkapkan, pihaknya telah mengucurkan biaya sebesar Rp 158 triliun sepanjang tahun 2023 untuk mengakomodasi layanan kesehatan kepesertaan BPJS Kesehatan.
“Sekarang ini kita menerima (iuran) di tahun 2024 itu estimasi Rp 160 triliun. (Dana yang dikucurkan untuk pelayanan kesehatan masyarakat) BPJS mengeluarkan sekitar Rp 158 triliun di tahun 2023,” ungkap Ali di Kantor Investortrust, Jakarta, Senin (7/10/2024).
Mantan Wakil Menteri Kesehatan periode 19 Oktober 2011 – 20 Oktober 2014 itu turut menyampaikan, BPJS Kesehatan mengalami defisit aset operasi bersih atau pada periode 2014 – 2021. “Cashflow-nya sudah positif, tapi aset netto defisit Rp 5,6 triliun,” imbuh Ali.
Baca Juga
BPJS Kesehatan Ungkap UHC RI Capai 98,67% Hingga September 2024
Berdasarkan data Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN) yang diolah tim Litbang investortrust.id, jumlah kepesertaan BPJS Kesehatan hingga April 2024 mencapai 267,31 juta, di mana data tersebut telah dikonfirmasi oleh Direktur Utama BPJS Kesehatan saat berkunjung ke Kantor Investortrust pada Senin (7/10/2024).
Sementara itu, Ali menyarankan, pembagian kategori PBI (penerima bantuan iuran) maupun non-PBI harus dibagi menjadi tiga segmen agar lebih ideal dan tepat sasaran.
“Menurut saya, gampangnya itu dibagi tiga saja, pekerja formal, informal atau yang miskin. (masyarakat) miskin dibayar negara, (pekerja) informal dibayar sebagian oleh negara, pekerja formal bayar sendiri,” kata dia.
Berdasarkan data yang diolah tim Litbang investortrust.id, kepesertaan BPJS Kesehatan memiliki perincian sebagai berikut:
- PBI Pusat: 96,75 juta peserta
- Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU): 69,81 juta peserta
- Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) Pemda: 42,05 juta peserta
- Pekerja Penerima Upah (PPU): 53,44 juta peserta
- Bukan Pekerja: 5,26 juta peserta

