Rupiah Ditutup Melemah Terhadap Dolar AS
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah ditutup dalam posisi melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (11/8/2026). Data Bloomberg menunjukkan rupiah melemah 0,6% menjadi Rp 17.861 per dolar AS.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi menjelaskan terdapat beberapa peristiwa yang memengaruhi pelemahan rupiah hari ini. Salah satunya, tentang klaim AS dan Iran di Selat Hormuz.
“Washington menyatakan bahwa jalur perairan tersebut tetap terbuka, sementara Teheran mengklaim telah menutup jalur itu menggunakan ranjau dan pesawat nirawak,” kata Ibrahim, dalam keterangan resminya, Selasa (11/8/2026).
Presiden AS, Donald Trump pada hari Senin menuntut Iran membayar kompensasi bagi korban jiwa dalam konflik baru-baru ini, sebagai tanggapan atas tuntutan kompensasi yang diajukan oleh Teheran. Situasi ini terjadi meskipun sebelumnya pihak berwenang AS sempat menyatakan bahwa kesepakatan untuk membuka kembali jalur perairan vital tersebut sudah dekat, menyusul penurunan tajam harga minyak pada pekan lalu.
Baca Juga
Kendati Melemah, Rupiah Tetap Pertahankan Posisi di Bawah Rp 18.000 per Dolar AS
Perhatian kini beralih ke data Indeks Harga Konsumen (CPI) AS pada hari Rabu dan Indeks Harga Produsen (PPI) pada hari Kamis. Investor sedang mencari petunjuk baru tentang jalur suku bunga Fed.
Indeks Harga Konsumen Juli 2026 diperkirakan akan turun dari 3,5% menjadi 3,4% secara tahunan. Indeks Harga Konsumen Inti (Core CPI), yang tidak termasuk barang-barang yang mudah berubah, diproyeksikan turun dari 2,6% menjadi 2,5% secara tahunan.
Sehari setelah itu, pada hari Kamis, Indeks Harga Produsen juga diproyeksikan akan melambat. Menurut CME FedWatch Tool, pasar memperkirakan sekitar 44% kemungkinan kenaikan suku bunga pada pertemuan September, turun dari 67% seminggu sebelumnya.
Di dalam negeri, pasar bersikap waspada terhadap agenda tinjauan MSCI untuk Agustus 2026 yang dijadwalkan pada 12 Agustus 2026. Rencananya, perubahan rebalancing akan mulai berlaku setelah 31 Agustus.
Baca Juga
Kendati demikian, tekanan penurunan pasar sedikit tertahan oleh langkah Presiden Prabowo yang menunjuk Pelaksana Tugas (Plt.) Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti, sebagai calon tunggal pengganti Perry Warjiyo, sehingga meredakan kekhawatiran terkait kepemimpinan.
Meski demikian, pasar juga merespon negatif setelah rilis data Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) terbaru yang menurun, dari 117,8 pada Juni 2026 menjadi 116,8 pada Juli 2026. IKK Juli 2026 di level 116,8 ini merupakan yang terendah sejak September 2025 (115).
Sementara apabila dibandingkan dengan posisi awal tahun atau Januari 2026 (127), IKK sudah mengalami penurunan 10,2 poin. Sebagai informasi, survei yang dilakukan oleh BI menunjukkan keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini dan ekspektasi mereka terhadap masa depan.

